17 Jan

Perjalanan ke Banyuwangi dan Percakapan Bermakna Selama Perjalanan

Sobat!

Setelah seharian kemarin aku dan kawan-kawanku sibuk bersama-sama belajar menggali makna dan penerapan akan kesatuan umat manusia, jadinya sampai gak sempet bercerita petualangan kemarin 😀

Tapi intinya sudah aku ceritakan kemarin tanggal 15 Januari ya 😀 hehe..

Hari ini saatnya lanjutkan perjalanan. Ke tetangga sebelahnya Jember aja sih. Yeah, menuju Banyuwangi 🙂 salah satu kota yang berkesan di hatiku.

Hari ini sampai siang saja pembelajarannya bareng teman-teman muda-mudi. Trus melanjutkan perjalanan ke Banyuwangi.

Kali ini aku sendiri yang ke Banyuwangi. Temanku Reza kembali ke Jogja. Dan beruntungnya ada teman dari Banyuwangi yang mengajakku pulang bersamanya. Mas Bambang nama sahabatku yang tinggal di Banyuwangi itu, kawan.

Petualangan kali ini nggak naik bis, kereta, motor atau jalan kaki, kawan 😀 tapi naik mobilnya Mas Bambang menuju Banyuwangi.

Yah.. serunya sih, selain gratis, hehe.. juga bisa mengamati pemandangan dan juga nggak kehujanan, kan lagi musim hujan 😀

Tapi, seru yang sebenarnya sih saat banyak ngobrol sama Mas Bambang, kawan. Sepanjang perjalanan kita ngobrol banyak hal, mulai dari topik kehidupan dan pekerjaan, hobi, sampai kebahagiaan hidup yang sejati 🙂 Sampai nggak kerasa perjalanan sekitar 2 jam naik mobil dari Jember ke Banyuwangi.

Aku akan sedikit share obrolan kita, kawan 🙂

Mas Bambang teringat masa mudanya saat ngobrol denganku, kawan. Yang dia ingat adalah bahwa masa itu adalah masa-masa perjuangan awalnya. Meskipun dia berjuang mulai dari awal, tapi dia sangat menikmati masa mudanya. Yang mana sekarang ini dia menikmati masa kesuksesannya, meskipun perjuangan terus berlanjut dia bilang 😀

Yah, memang bener! Toh aku sedang masa-masa penuh perjuangan saat ini 😀 Semangat muda ini yang dilihat Mas Bambang, yang membuatnya teringat masa mudanya.

Oya, Mas Bambang ini salah seorang Banker sukses di Banyuwangi, kawan. Jadi, perjuangan yang kita bicarakan ya tentang dunia perbankan dan dunia perekonomian. Yah, aku juga masih ada background keilmuan ekonomi, kan lulusan Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga *membanggakan Almamater (gak apa, sedikit.. hehe)

Makanya obrolan kita masih nyambung lah ya.. meskipun aku sudah beberapa tahun terakhir ini nggak begitu mengikuti perkembangan dunia ekonomi, karena aku anak ekonomi yang mengambil bidang yang lebih spesifik, kawan. Ekonomi fantasi 😀 Ya kan bidangku sekarang ini dunia imaginasi, hehe..

Nah, obrolan yang seru juga adalah tentang kebahagiaan hidup yang sejati, kawan. Kita saling share, kalau kebahagiaan di dunia ini memang sifatnya sementara. Okey, kita bisa meraih sukses, mencapai prestasi, tapi kebahagiaan itu sepertinya belum lengkap. Seperti ada kebahagiaan yang belum dirasakan.

Ya, terlepas dari sifat manusia yang selalu merasa tidak puas. Kebahagiaan ini lain dari pada kebahagiaan yang dikarenakan hal materi. Kebahagiaan ini adalah kebahagiaan batin.

Mas Bambang bercerita pengalaman masa kecilnya, yang mana keluarganya pada saat itu mengalami penderitaan dikarenakan keyakinan yang dianutnya. Berteguh hati pada keyakinannya adalah sumber kebahagiaan mereka pada saat itu, meskipun secara jasmani mengalami kekurangan.

Dengan semangat pengabdian pada apa yang diyakininya, dan juga berusaha menerapkan apa yang diyakininya, yaitu berusaha menunjukkan cinta kasih kepada sesama manusia, keluarga Mas Bambang merasakan kebahagiaan sejati.

Aku juga sangat setuju, kawan. Kebahagiaan yang muncul dari semangat mengabdi untuk sesama adalah kebahagiaan yang sejati 🙂

Itu yang aku rasakan saat aku sedang dan terus berusaha mengabdikan diri sesuai keyakinanku akan kesatuan umat manusia, ya.. kebahagiaan sejati 🙂

Hmm.. percakapan yang bermakna dan obrolan penuh semangat persahabatan kurasakan selama perjalanan. Itu yang seru! 😀

Anyway, itu caraku menikmati petualangan hari ini, kawan..