22 Jul

Save Our Semeru (SOS)

Kawan.. aku mau share petualangan sekawanan! 😀

Yes.. sekawanan yang bertualang ke Gunung Semeru!

Kitalah..

Berdiri dari kiri: Taufan, lukmanhanz, Youdi Rambu, Ifan, Jumei. Duduk: Funk Rule

Berdiri dari kiri: Taufan, lukmanhanz, Youdi Rambu, Ifan, Jumei. Duduk: Funk Rule

Tujuan kita bukan mau mendaki mencapai puncak tertinggi (laguis banget! 😛 *laguis, temannya puitis)

Tujuan kita mau ikut kegiatan SOS, Save Our Semeru!

Save Our Semeru, adalah bentuk kepedulian bersama pada lingkungan, khususnya di sini adalah Gunung Semeru, gunung tertinggi di Jawa! Dan konkretnya, ya bersih-bersih gunung! Dari sampah buangan manusia 😀

bersih-bersih gunung

bersih-bersih gunung

Kita ikut berkontribusi pada event ini pada momen-momen setelah hari besar nasional, pada akhir Agustus. Tepatnya kita ikutan bersih-bersih gunung di danau Ranu Kumbolo, sekitar 10 km dari Ranu Pani, desa terakhir sebelum mendaki Semeru.

Beraksi di Ranu Kumbolo

Beraksi di Ranu Kumbolo

Nah kan pada banyak tuh para pendaki yang ingin membuktikan bentuk nasionalismenya dengan mendaki puncak tertinggi, sambil berfotoforia berteriak ‘merdeka!’ 🙂 Keren! Ayo lanjutkan perjuangan hidup kita kawan, sama seperti perjuangan mendaki puncak tertinggi!

Jadi, biasanya (biasanya lho ya..) banyaknya pendaki, berbanding lurus dengan banyaknya sampah buangan para pendaki. Plastik kemasan makanan dan minuman, kaleng-kaleng bekas, tisu basah dan baterai yang mengandung bahan kimia, dimana semuanya sangaaat sulit terurai, dan butuh waktu sangat lama! Dan yang parahnya, kotoran manusia (maaf, tapi memang realita) yang jelas bisa mencemari lingkungan.

Karena hal ini adalah ‘biasanya’, yang aku bilang tadi kawan.. maka perlu proses edukasi dan tindakan berkelanjutan supaya kebiasaan ini berubah! 🙂

So.. kita sekawanan ikut berkontribusi pada event ini, supaya kita sendiri, aku sendiri, mulai belajar dan mulai sadar untuk melestarikan lingkungan. 🙂

Pelajaran yg didapatkan kawan..

Prinsip melestarikan alam!

Prinsip utama pecinta alam adalah melestarikan alam! Dan ini bentuk hakiki bagi siapa saja yang menyatakan cinta alam! 🙂 

Tujuannya jelas untuk kepentingan bersama dan untuk masa depan, sudah sangat jelas kan kontribusi alam untuk masa depan kehidupan, jadi tak perlu berpanjang teori lagi.

Sadar, kalo prinsip kita adalah melestarikan! Bukan merusak, mengeksploitasi, memanfaatkan alam untuk kepentingan sendiri.

Lakukan! Untuk melestarikan alam!

Dengan prinsip itu, petualangan kita juga akan berfokus pada ‘hal apa yang bisa kita lakukan untuk alam’ bukan ‘apa yang bisa alam berikan untuk kita’.

Misal, hal paling sederhana, ‘membuang sampah pada tempatnya, atau bagi pendaki, tidak buang sampah sembarangan, bawa turun lagi sampahnya (masak ndaki bawa kaleng berat kuat, turun bawa kaleng kosong ga kuat? ga malu sama selfienya di puncak? 😛 *just for jokes guys). Dan yang pasti, banyak sekali ‘hal-hal yang bisa kita lakukan untuk alam’ untuk melestarikan alam! Ikut penanaman pohon, tidak menebang pohon sembarangan, tidak berburu sembarangan, dan lainnya..

Nah, jadinya bukan hanya ‘apa yang bisa alam berikan untuk kita’ seperti.. demi foto keren so mesti muncak nih, atau biar bisa menikmati pemandangan mengesankan dan tak terlupakan, atau juga biar bisa menikmati udara segar dari alam. Itu semua boleh kawan, sangat boleh 🙂 bahkan alam sudah tentu menyediakannya untuk kita semua, prasmanan! 😀 Tapi ya masak gitu aja toh? Mana feedback kita ke alam?

Sebarkan semangat melestarikan alam!

Ayo kawan.. kita sebarkan mindset ‘hal apa yang bisa kita lakukan untuk alam’. Kita sendirian yang berprinsip seperti itu gak bakal bisa bro n sist! Harus banyak orang dan semakin banyak orang yang sadar! 🙂

Caranya sebarkan? jelas pertama kita berusaha memulai, dan semoga kita bisa saling menginspirasi untuk memunculkan inisiatif-inisiatif lainnya. Intinya, ayo kita sama-sama, semua orang bisa saling menyebarkan semangat ini.

Semoga semangat menyebarkan semangat melestarikan alam ini bertujuan murni dan alami, seperti sifat alam yang murni dan alami 🙂 tanpa ada tujuan dan motif untuk diri sendiri, yang tak lagi murni dan alami.

Terus berusaha terus lestarikan alam!

Ya! hidup kita memang dipenuhi dengan usaha 🙂 termasuk berusaha melestarikan alam!

Sudah.. ayo kita mulai melestarikan alam, kawan! 🙂

salam alam lestari dari para pecinta alam

salam alam lestari dari para pecinta alam

Nah.. ada endingnya nihhh…

Ending cerita, kegagalan cinta di tanjakan cinta *preeet 😀

Hahaha! Jadi gini ceritanya..

Waktu aku berjalan di tanjakan cinta, yang terkenal karena mitos cintanya itu.. aku coba cari spot yang pas untuk ambil foto matahari yang menghadap langsung ke tanjakan cinta.

semua berawal demi mengejar foto yang gak bagus-bagus amat ini :D

semua berawal demi mengejar foto yang gak bagus-bagus amat ini 😀

‘Bleesss..’ langsung saja kakiku terperosok masuk ke lubang yang memang tertutupi ilalang, mana pandanganku fokus menatap ke langit..

‘Aduuuhh, cerobohnya aku!’ begitu pikirku saat itu. Langsung deh, dibopong para sobat! Langsung diolesin balsem, diurut, agak mendingan, tapi ya masih sakit 😀

Dan pagi itu kita langsung turun ke bawah. Jadi deh udah kaki keseleo karena kecerobohan, jalan kaki turun sekitar 10 km dari Ranu Kumbolo ke Rani Pani.

Pengalaman berharga untukku kawan, ‘jangan ceroboh saat di alam, tetap waspada!’

Terpincang-pincang dibantu tongkat kayu :D

Terpincang-pincang dibantu tongkat kayu 😀

Jadinya, setiap ketemu pendaki lainnya saat turun, sobat-sobatku becanda dengan berkata ‘dia gagal cinta di tanjakan cinta’ lantas kita semua tertawa! 😀

Yaini endingnya.. tawa bahagia di hati serasa perih di kaki!

22 May

Pelajaran dari Mendaki Gunung

Mendaki GunungHallo kawan!!!

Para petualang, para pendaki gunung.. gimana kabarnya? 🙂

Habis mendaki gunung mana nih? Atau ada rencana mendaki gunung dalam waktu dekat ini?

Ya kawan.. dalam hal mendaki gunung, aku yakin kalian semua sudah hebat-hebat, bahkan masternya mendaki gunung.. 🙂

Kalau aku bisa dikatakan pemula, hehe.. ya karena belum terlalu banyak pengalaman maupun gunung yang kudaki.

Tapi, aku sangat menikmati belajar dan mengambil pelajaran maupun pengalaman dari para pendaki senior.

Dari mereka aku banyak belajar tentang petualangan, ilmu, persiapan, maupun trik-trik dalam mendaki gunung.

Dua pelajaran berharga yang kudapatkan dari mereka, kawan..

Pertama, tentang gunung itu sendiri.

Tentang kondisi gunung, jalur pendakian gunung, maupun seluk beluk yang terdapat di jalur pendakian gunung.

Kita bisa belajar tentang kehidupan, bahwa hidup ini seperti kita mendaki gunung. Perjalanan kita masih sangat panjang.. masih sangat tinggi.. dan banyak tantangan dan rintangan yang siap menghadang di depan.

Gunung bisa sangat bersahabat bagi kita, bisa juga teramat sangat membahayakan jiwa kita. Hal itu berkaitan dengan resiko. Hidup kita pun demikian. Pasti banyak resiko yang akan kita hadapi dalam menjalani kehidupan. Dan kita harus memilih!

Proses panjang mendaki gunung juga nggak akan lancar-lancar saja. Pasti ada jatuh bangunnya. Jatuh berkali-kali, juga harus bangkit melebihi berkali-kali kita jatuh, untuk sampai ke puncak. Nah, dalam hidup pun juga seperti itu, tak perlu kugambarkan karena kuyakin kita semua mengerti 🙂

Itu kawan! Tentang gunung ibarat dunia ini, kehidupan kita. Kita sedang berjuang mengarungi pendakian panjang menuju puncak kehidupan kita.

Lantas, yang kedua adalah tentang pendakinya..

Pelajaran apa yang bisa diambil dari pendakinya?

Mendaki gunung, seperti yang disebutkan sebelumnya, butuh proses panjang, penuh tantangan dan perjuangan, dan hasilnya adalah puncak kejayaan.

Itu semua menguji para pendaki gunung untuk benar-benar membuktikan mereka pantas sampai di puncak!

Banyak orang berkata, proses lebih penting dari hasil. Ya, saat kita mencintai dan menjalani proses, hasilnya nanti akan mengikuti. Aku yakin itu.

Dan mendaki gunung, adalah tentang proses. Proses perjuangan, kesabaran, keteguhan, semangat, kesetiakawanan, dan juga menjaga dan melestarikan alam, diuji untuk menuju puncak.

Mendaki gunung, mengarungi alam, bukan soal hebat-hebatan, jago-jagoan, kuat-kuatan, cepat-cepatan..

Mendaki gunung adalah proses menguji kesabaran kita, menjaga emosi kita untuk tetap tenang, dan tanpa ambisi, mengembangkan rasa kesetiakawanan kita baik pada sesama pendaki maupun kesetiakawanan pada alam dengan melestarikannya, juga meningkatkan semangat kita untuk terus berjuang. Dan hal itu sama seperti yang kita lakukan di kehidupan.

Itu kawan! Para pendaki gunung ibarat kita semua yang sedang mengarungi kehidupan di dunia ini. 🙂

Sekali lagi, aku masih menikmati proses belajar dan terus belajar..

Itu pelajaran yang kudapat dari para pendaki hebat. Terima kasih kawan atas ilmu dan pengalamanmu.

Mungkin sobat ada pelajaran berharga yang bisa dibagikan?

Ayo kita diskusi dan saling belajar kawan 🙂

“Pelajaran dari mendaki gunung adalah tentang gunung sebagai dunia ini, dan para pendaki sebagai kita yang sedang mengarungi hidup di dunia ini” lukmanhanz