02 Apr

Tetaplah Berpengharapan

Hari-hari selalu dihiasi kisah sedih dan bahagia. Itu memang yang telah dikehendaki Sang Pencipta pada kehidupan manusia, yaitu kehidupan insani yang dimaksud, kawan! πŸ™‚

Keduanya memang ada, sedih-bahagia, pada kehidupan insani. Realita yang tentunya tersimpan makna di balik itu. Kenapa ada keduanya, sedih-bahagia, dalam kehidupan insani manusia? Apa makna dari ini?

_20160406_113537

Kita coba hayati.. apa itu kehidupan insani. Kehidupan sementara di dunia ini, yang batasannya adalah seluruh dan seisi bumi. Inilah kehidupan insani.

Saat kehidupan insani adalah sementara, maka tentunya sedih-bahagia juga sementara sifatnya. Saat kita dihina, dicerca orang lain.. sedih sekali rasanya. Saat kita dihormati, dimuliakan sesama manusia.. bahagia dan bangga tak terkira. Saat kita hayati lagi.. keduanya itu hanya sementara saja di dunia insani, kan? πŸ™‚

Lantas apa yang perlu kita lakukan, kita cari, sebagai manusia insani yang sementara ini. Seolah saja, hidup menjadi tanpa harapan jika sudah pahami bahwa sedih-bahagia hanya sementara. Toh apa guna bersedih, apa guna berbahagia.. tak ada harapan hidup ini.

Tetaplah berpengharapan. πŸ™‚ Ini untukku maupun untuk kalian para sahabatku..

Saat kita mulai hayati makna ini, kita mulai membuka lembaran baru Buku petunjuk kehidupan ini.

Buku kehidupan tak hanya menuntun kita rasakan sedih-bahagia yang sementara. Ada lembaran-lembaran berikutnya. Mungkinkah kita tau dan pahami lembaran-lembaran selanjutnya seandainya kita nyaman saja dengan lembaran saat ini? πŸ™‚ Buku kehidupan inilah Ajaran Tuhan.

Kita semua sedang terus berusaha pahami dan hayati makna. Memang tak mudah, makanya mari bersama tetap berpengharapan πŸ™‚

Manusia tak hanya wujud fisik saja. Manusia adalah makhluk spiritual. Manusia mempunyai potensi kerohanian. Itulah karunia Sang Pencipta yang mencipta manusia yang memiliki raga dan jiwa.

Bukti adanya raga nampak nyata: tubuh manusia, jasmani yang hidup di dunia insani. Bukti adanya jiwa seolah tak nyata tetapi tak terpungkiri: roh manusia, yang pancarkan sinar Ilahi cahaya Surgawi, sehingga kita manusia mampu pahami dan terapkan cinta, kasih, kejujuran, kemuliaan, tanda sifat rohani.

Tapi realita saat ini, banyak manusia keji yang tak pancarkan cinta kasih. Itu bukan lah hakikat sejatinya roh manusia, kawan. πŸ™‚ Ibarat magnet yang sejatinya mengarah ke utara dan selatan, seandainya ada pengaruh yang sangat kuat dari besi-besi di sekitar magnet itu, sehingga akan mempengaruhi medan magnet, magnet itu akan melenceng dari sifat aslinya, dia akan mengarah ke arah pengaruh kuat di sekitarnya itu. Sama persis dengan tubuh jasmani. Apakah sakit adalah sifat sejati tubuh jasmani? Sejatinya jasmani adalah sehat. Sakit terjadi karena tubuh jasmani melenceng dari hidup sehat.

Kembali ke kehidupan manusia πŸ™‚

Inilah petunjuk selanjutnya Buku kehidupan, kawan..

Kehidupan manusia tak hanya kehidupan insani. Sebagaimana manusia adalah makhluk spiritual, kehidupan sejati manusia adalah kehidupan rohani, kehidupan Ilahi. Dan kehidupan ini kekal. Kehidupan yang membawa kebahagiaan sejati, baik ketika di dunia ini maupun di akhirat.

Bukankah sifat-sifat Ilahi seperti cinta, kasih, kejujuran, kedermawanan, kebaikan hati pada sesama manusia dan seluruh makhluk hanya akan mendatangkan kebahagiaan? Ya, meskipun bisa saja secara fisiknya mengalami pertentangan dan kepedihan, tapi tak terpungkiri jiwa akan merasakan kebahagiaan sejati.

Untuk itu, mari kita tetap berpengharapan akan kehidupan Ilahi dan selalu berusaha menerapkan sehari-hari. Dan mari meraih kebahagiaan sejati πŸ™‚

“Tetaplah berpengharapan. Hidup tak hanya sedih-bahagia sementara bentuk kehidupan insani. Mari berusaha raih kebahagiaan sejati sumber dari kehidupan Ilahi.” lukmanhanz

17 Jan

Perjalanan ke Banyuwangi dan Percakapan Bermakna Selama Perjalanan

Sobat!

Setelah seharian kemarin aku dan kawan-kawanku sibuk bersama-sama belajar menggali makna dan penerapan akan kesatuan umat manusia, jadinya sampai gak sempet bercerita petualangan kemarin πŸ˜€

Tapi intinya sudah aku ceritakan kemarin tanggal 15 Januari ya πŸ˜€ hehe..

Hari ini saatnya lanjutkan perjalanan. Ke tetangga sebelahnya Jember aja sih. Yeah, menuju Banyuwangi πŸ™‚ salah satu kota yang berkesan di hatiku.

Hari ini sampai siang saja pembelajarannya bareng teman-teman muda-mudi. Trus melanjutkan perjalanan ke Banyuwangi.

Kali ini aku sendiri yang ke Banyuwangi. Temanku Reza kembali ke Jogja. Dan beruntungnya ada teman dari Banyuwangi yang mengajakku pulang bersamanya. Mas Bambang nama sahabatku yang tinggal di Banyuwangi itu, kawan.

Petualangan kali ini nggak naik bis, kereta, motor atau jalan kaki, kawan πŸ˜€ tapi naik mobilnya Mas Bambang menuju Banyuwangi.

Yah.. serunya sih, selain gratis, hehe.. juga bisa mengamati pemandangan dan juga nggak kehujanan, kan lagi musim hujan πŸ˜€

Tapi, seru yang sebenarnya sih saat banyak ngobrol sama Mas Bambang, kawan. Sepanjang perjalanan kita ngobrol banyak hal, mulai dari topik kehidupan dan pekerjaan, hobi, sampai kebahagiaan hidup yang sejati πŸ™‚ Sampai nggak kerasa perjalanan sekitar 2 jam naik mobil dari Jember ke Banyuwangi.

Aku akan sedikit share obrolan kita, kawan πŸ™‚

Mas Bambang teringat masa mudanya saat ngobrol denganku, kawan. Yang dia ingat adalah bahwa masa itu adalah masa-masa perjuangan awalnya. Meskipun dia berjuang mulai dari awal, tapi dia sangat menikmati masa mudanya. Yang mana sekarang ini dia menikmati masa kesuksesannya, meskipun perjuangan terus berlanjut dia bilang πŸ˜€

Yah, memang bener! Toh aku sedang masa-masa penuh perjuangan saat ini πŸ˜€ Semangat muda ini yang dilihat Mas Bambang, yang membuatnya teringat masa mudanya.

Oya, Mas Bambang ini salah seorang Banker sukses di Banyuwangi, kawan. Jadi, perjuangan yang kita bicarakan ya tentang dunia perbankan dan dunia perekonomian. Yah, aku juga masih ada background keilmuan ekonomi, kan lulusan Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga *membanggakan Almamater (gak apa, sedikit.. hehe)

Makanya obrolan kita masih nyambung lah ya.. meskipun aku sudah beberapa tahun terakhir ini nggak begitu mengikuti perkembangan dunia ekonomi, karena aku anak ekonomi yang mengambil bidang yang lebih spesifik, kawan. Ekonomi fantasi πŸ˜€ Ya kan bidangku sekarang ini dunia imaginasi, hehe..

Nah, obrolan yang seru juga adalah tentang kebahagiaan hidup yang sejati, kawan. Kita saling share, kalau kebahagiaan di dunia ini memang sifatnya sementara. Okey, kita bisa meraih sukses, mencapai prestasi, tapi kebahagiaan itu sepertinya belum lengkap. Seperti ada kebahagiaan yang belum dirasakan.

Ya, terlepas dari sifat manusia yang selalu merasa tidak puas. Kebahagiaan ini lain dari pada kebahagiaan yang dikarenakan hal materi. Kebahagiaan ini adalah kebahagiaan batin.

Mas Bambang bercerita pengalaman masa kecilnya, yang mana keluarganya pada saat itu mengalami penderitaan dikarenakan keyakinan yang dianutnya. Berteguh hati pada keyakinannya adalah sumber kebahagiaan mereka pada saat itu, meskipun secara jasmani mengalami kekurangan.

Dengan semangat pengabdian pada apa yang diyakininya, dan juga berusaha menerapkan apa yang diyakininya, yaitu berusaha menunjukkan cinta kasih kepada sesama manusia, keluarga Mas Bambang merasakan kebahagiaan sejati.

Aku juga sangat setuju, kawan. Kebahagiaan yang muncul dari semangat mengabdi untuk sesama adalah kebahagiaan yang sejati πŸ™‚

Itu yang aku rasakan saat aku sedang dan terus berusaha mengabdikan diri sesuai keyakinanku akan kesatuan umat manusia, ya.. kebahagiaan sejati πŸ™‚

Hmm.. percakapan yang bermakna dan obrolan penuh semangat persahabatan kurasakan selama perjalanan. Itu yang seru! πŸ˜€

Anyway, itu caraku menikmati petualangan hari ini, kawan..