15 Oct

Rekaman Masa Lalu

“Emilia, bagaimana kamu bisa selalu tersenyum?” Lena memulai percakapan pada jam istirahat sekolah. “Aku mengamatimu yang setiap saat selalu bahagia. Aku mau tahu caranya. Bisakah kamu memberi tahuku? Aku ingin bahagia sepertimu.” Lena lantas menunduk dan tersedu-sedu.

“Lena..” Emilia merangkul lembut bahu Lena. “Ayo ikut aku.” Mereka berdua melangkah menuju taman sekolah yang jauh dari kebisingan teman-temannya. Mereka duduk di bangku taman di bawah pohon yang rindang.

“Lena..” Dia masih tersedu-sedan. “Ada apa? Silakan cerita padaku.” Kelembutan Emilia dan keasrian suasana taman mampu menenangkan Lena.

“Aku sangat bersedih, Lia..” Lena mulai bisa mengontrol dirinya. “Saat ini aku hanya mau bahagia, sepertimu yang selalu bahagia.”

“Baiklah.. Kalau boleh tahu, apa yang membuatmu sangat bersedih? Silakan bercerita..” Emilia mengelus lembut bahu Lena dan siap mendengarkannya dengan penuh perhatian.

“Orang tuaku akan bercerai..” Suara tangis Lena pecah, memecah ketenangan taman.

“Aku bingung.. tak tahu..” Terisak-isak dia berkata dalam tangisnya, “harus.. bagaimana… aku hanya… ingin bahagia…”

Emilia langsung memeluknya, mengelus rambutnya, menenangkannya.

“Tenang, Lena.. Ada aku di sini menemanimu.”

“Aku hanya ingin bahagia… Tolong beri tahu aku, Lia… Bagaimana? Bagaimana?”

Lena masih terhanyut dalam luapan emosinya. Emilia melepaskan pelukannya, dan dia menggenggam tangan Lena.

“Baiklah.. Tenangkan dirimu dulu ya.. Setelah ini aku akan mengajakmu berbagi kisahku, bagaimana aku bisa bahagia.”

Lena mengangguk. Dia mencoba menenangkan diri, menarik dan mengembuskan nafas panjang.

Emilia semakin erat menggenggam tangan Lena. “Ikut aku..”

Seketika mereka berdua memasuki lorong yang sangat gelap. Lalu, seberkas cahaya yang sangat cepat menuju ke arah mereka. Emilia dan Lena memasuki ruang dan waktu yang berbeda, bukan di taman sekolah lagi.

“Di mana kita?” Lena ketakutan setelah menyadari mereka sedang berada di dalam ruang yang serba hitam putih tak ada warna-warni.

“Tenang, Lena..” Emilia meyakinkannya. “Ini adalah ruang masa laluku. Kau akan melihat kisahku.” Emilia tersenyum.

Tapi Lena masih kebingungan, “Kok bisa, ada apa ini?”

“Aku sendiri juga belum tahu kenapa aku bisa punya kekuatan unik ini.” Emilia tertawa, mencoba meredakan kegelisahan Lena. “Kamu adalah orang kedua yang pernah kuajak ke ruang masa laluku ini. Tenang, Lena.. semua akan baik-baik saja. Oh iya, jangan lepas genggaman tanganku. Karena hanya dengan berpegangan begini kita akan bisa melintasi dimensi ini.”

Lena mengangguk. Dia masih ragu. Emilia hanya tersenyum.

“Kita sedang berada di dalam rumah kontrakanku yang dulu. Sekitar lima tahun yang lalu, saat aku baru kelas 1 SMP.” Emilia sekilas bercerita saat mereka melintasi ruangan rumah yang kosong tanpa perabot.

“Siapa itu?” Lena sontak terkejut melihat seorang ibu dan anak perempuannya yang sedang menangis sangat kencang di atas satu-satunya kursi kayu yang mereka duduki di ruangan itu.

“Jangan takut, Lena. Itu aku dan ibuku. Mereka tak bisa melihat kita. Hanya kita yang bisa melihat mereka. Ibaratnya, saat ini kita sedang melihat rekaman masa lalu.”

Anggukan dan tatapan Lena menunjukkan dia mulai bisa menyesuaikan diri di dalam dimensi lain ini. Emilia tersenyum puas.

“Kenapa kalian menangis?” Spontan Lena bertanya.

“Kamu lihat kertas di atas lantai itu. Ibuku meremas-remas dan membuangnya. Itu surat yang ditulis ayahku. Surat yang berisi penyesalannya sudah gagal menjadi kepala keluarga. Dia menyerah dan pergi meninggalkan kami dalam kemiskinan yang sungguh menyedihkan.”

“Lia…” Mata Lena berkaca-kaca. “Aku tak menyangka masa lalumu sepilu itu.”

Emilia hanya tersenyum. Dia mengajak Lena melanjutkan melangkah.

Lena kembali terkejut, “Sekarang kenapa kamu menangis sendirian terduduk di ujung ruangan?”

“Itu beberapa hari setelahnya. Ibu juga meninggalkanku.” Emilia pun menangis tersedu-sedu teringat kisah itu. Melihat ratapan masa lalunya membuat dia ikut hanyut dalam kesedihan. Lalu dia mencoba tenang, melanjutkan bercerita, “Ibu juga menyerah. Dia pergi dan menyuruhku mencari keluarga baru. Pesannya disampaikan dalam surat yang sudah kusobek-sobek di bawahku itu.”

Lena tak mampu menahan tangisnya melihat kepedihan yang dialami sahabatnya. Mereka berdua saling berpelukan dalam keharuan itu.

Emilia dengan ketegarannya mengajak Lena melanjutkan melangkah.

Perlahan, latar tempat berubah. Mereka berdua berpindah tempat. Saat ini mereka berada dalam keramaian terminal bus kota. Lena agak terkejut, tapi kali ini dia sudah terbiasa dalam suasana dimensi yang serba hitam putih ini.

“Lia, dengan begitu beratnya kisah masa lalumu, bagaimana kamu melaluinya?” Lena dengan penasaran bertanya karena masih tak menyangka apa yang dialami sahabatnya.

“Kita akan mengetahuinya nanti. Kita ikuti saja perjalanan ini.”

“Itu kamu!” Sontak Lena menunjuk seseorang di antara keramaian terminal.

“Iya, itu aku.” Emilia menjawab.

“Apa yang kamu lakukan di sini, Lia?”

“Aku diusir dari rumah kontrakan karena tidak bisa membayar uang sewa. Jadi di sini lah aku tinggal. Tidur beralaskan kardus di atas lantai terminal. Tak ada pilihan lain, mengemis seperti itu yang bisa kulakukan untuk bisa makan.” Emilia menatap pilu bayangan dirinya yang masih belia luntang-lantung ke sana kemari meminta belas kasihan orang-orang.

Lena terdiam. Dia sungguh tak mengerti kata-kata seperti apa yang perlu dia sampaikan untuk menghibur Emilia setelah dia mengetahui penderitaan sahabatnya yang sepedih ini.

Mereka berdua terus melangkah, dan tak melepaskan pandangannya pada Emilia belia yang malang.

“Eh.. kamu mau lari ke mana itu?” Lena yang terkejut juga hendak berlari mengejar Emilia kecil yang terlihat berlari ketakutan.

Emilia menahan dengan tangannya. “Tenang, Lena.. Tanpa harus berlari, kita masih tetap bisa mengamatinya. Ingat, kan? Kita sedang melihat rekaman.” Emilia tersenyum.

Ikut terbawa ketegangan, Lena menunjuk ke arah Emilia kecil yang terengah-engah melarikan diri di antara kerumunan orang. “Lho, itu kamu mau ke mana?”

“Coba perhatikan gadis kecil yang sedang berlari mengejarku itu. Memang tidak terlalu kelihatan di antara kerumunan. Tapi coba lihat, dia diikuti papa mamanya yang mengejar di belakangnya.”

“Oh, siapa dia? Kenapa kamu takut dengannya?”

“Namanya Ana. Dia teman akrabku di sekolah. Di kelas, kita selalu duduk bersebelahan. Waktu di sekolah, ke mana pun dia, aku selalu ikut. Dan ke mana pun aku, dia juga ikut. Dia benar-benar sahabat baikku. Jelas saja dia berlari mengejarku setelah berhari-hari tidak bertemu di sekolah dan tiba-tiba saja melihatku mengemis di sini.” Lena hanya mengangguk perlahan tanpa berkata-kata.

Emilia dan Lena teruskan berjalan, dan perlahan latar terminal dengan kerumunannya  berubah menjadi taman yang hijau dan asri.

“Ini di taman kota di samping terminal.” Emilia berinisiatif menjelaskan sebelum Lena bertanya. “Kita bisa langsung melihat Ana dan aku sedang duduk di kursi taman itu, kan?”

“Iya..”

“Setelah melihat aku di terminal, besoknya Ana tanpa ditemani orang tuanya pergi mencariku. Setelah ketemu, dia mengajakku ke taman ini.”

“Ana memang sahabat yang baik. Dia tak menyerah untuk terus mencarimu.”

“Iya..” Pendek saja Emilia berkata. Dia tampak tersenyum dalam lamunan mengenang sahabat baiknya itu.

“Coba kita perhatikan percakapan mereka.” Emilia menyarankan, dan mereka berdua diam memperhatikan percakapan Ana dan Emilia.

“Lia, apa yang terjadi?” Singkat Ana bertanya, dan seketika Emilia menangis penuh emosi. Ana memeluk sahabatnya itu. Emilia dan Lena yang menyaksikan dengan penuh perhatian juga larut dalam haru.

Ana membelai rambut Emilia. Dia mencoba menenangkan, lalu kembali bertanya, “Ceritakan padaku, ada apa?” Tetapi Emilia menangis semakin kencang.

Memahami sahabatnya kesulitan mengungkapkan isi hatinya, Ana diam tak berkata maupun bertanya. Tangannya mengusap-usap lembut bahu Emilia. Hanya itu yang saat ini bisa dilakukannya sambil dia menunggu Emilia akan bercerita.

Ana menyeka air mata Emilia dengan sapu tangannya. Emilia pun malu dan lantas mengusap dengan tangannya sendiri. Ana tak peduli, dia tetap saja menunjukkan kepeduliannya dengan terus menyeka.

Setelah air mata di pipinya mengering, Emilia menjadi lebih tenang.

Ana tetap menunggu Emilia yang masih terdiam untuk membuka mulutnya dan mulai berbicara. Emilia dan Lena sebagai pengamat pun tetap sabar mengamati.

Ana terus saja mencoba menciptakan kenyamanan untuk sahabat baiknya yang masih kesulitan menyampaikan keluh kesahnya. Kali ini dia menggenggam tangan Emilia.

Emilia memejamkan mata, Ana juga melakukannya. Keduanya senyap.

Beberapa saat kemudian, Ana tersedu-sedu. Dia menangis. Tangannya semakin erat menggenggam tangan Emilia, dan raut mukanya seperti sedang menahan perih dengan matanya yang tetap terpejam.

Lena menatap Emilia, dan Emilia tersenyum. “Ana lah yang pertama masuk ke dalam ruang masa laluku.” Lena terdiam, dan kembali menatap Ana dan Emilia.

Perlahan, Ana membuka mata. Dia menyeka air matanya. Dia menatap penuh kasih pada Emilia, memahami apa yang sudah terjadi pada sahabat baiknya.

“Lia, kamu masih mempunyai aku, sahabatmu.” Ana dengan lemah lembut berkata, dan dia masih menggenggam tangan Emilia, menenangkannya, meyakinkannya.

“Tinggallah di rumahku dulu. Aku akan mengatakannya pada orang tuaku.”

“Terima kasih, Ana. Kamu sungguh baik sekali. Tapi tidak perlu. Aku tidak mau menyusahkanmu.”

“Aku tidak merasa susah. Dengan senang hati aku mau membantumu.” Ana tersenyum, Emilia pun tersenyum bahagia memiliki sahabat sebaik Ana.

“Aku yakin, dari kesulitan yang kamu hadapi saat ini, akan ada secercah harapan, dan semua akan baik-baik saja saat kita berusaha bersama.” Ana menepuk-nepuk tangan Emilia.

Lena tersenyum melihat betapa bermaknanya persahabatan kedua gadis belia itu. Dia menatap Emilia, mereka berdua saling tersenyum, dan terus melanjutkan melangkah.

Latar taman memudar, perlahan berganti tempat. Nuansa hitam putih kali ini membawa Emilia dan Lena berada di dalam suatu ruangan yang sangat sempit.

Ana dan Emilia berada di situ, duduk di atas lantainya yang masih kotor. Emilia menangis. Ana mencoba menenangkannya.

“Apa yang terjadi?” Spontan Lena bertanya.

Emilia tersenyum, “Kita perhatikan lagi..”

“Maafkan aku sudah sangat menyusahkanmu.” Emilia kecil berkata dalam tangisnya.

“Tidak, Lia.. Sungguh, aku bahagia bisa membantumu, menemanimu dalam saat-saat sulit seperti ini. Aku yang minta maaf karena papaku tidak mengizinkanmu tinggal bersama kami.”

“Aku bisa mengerti, Ana. Tidak apa-apa bagiku. Tapi aku malah menyusahkanmu dengan menyewakan kamar kos ini untukku.” Mata Emilia masih berkaca-kaca berlinang air mata.

Ana tersenyum, menepuk lembut bahu Emilia, “Sudah, tidak usah kamu risaukan. Syukurlah aku ada sedikit tabungan, jadi bisa membantumu untuk sementara tinggal di sini sambil kita terus mencari solusi nantinya.” Lalu Emilia memeluk erat sahabat baiknya itu.

“Oh ya, apa kamu punya saudara dari ayah atau ibu yang tinggal di kota ini? Mungkin kita bisa ke sana sebagai jalan keluarnya.” Ana mengusulkan idenya.

“Saudara dari keluargaku tinggalnya sangat jauh. Aku juga tidak tahu bagaimana caranya pergi ke sana. Aku tidak tahu alamat rumah mereka.”

“Baiklah..” Ana tersenyum, “untuk saat ini, lebih baik dan lebih aman kamu tinggal di sini.”

“Terima kasih, Ana..” Emilia tak mampu banyak berkata dalam keharuannya.

Wajah Ana berseri-seri dengan senyumnya yang memesona dan tatapan matanya yang penuh kasih.

Emilia dan Lena yang masih memperhatikan pun merasa takjub dengan kepedulian Ana sebagai sahabat yang baik.

“Lia, aku mau berbagi suatu hal denganmu. Semoga untuk kita berdua bisa lebih memaknai kehidupan.” Ana menepuk jemari Emilia, dan dia hanya mengangguk.

“Aku belajar dari suatu bimbingan yang bagiku sangat istimewa. Bimbingan itu menyampaikan bahwa janganlah kita terlalu bersedih dalam saat kesulitan dan kedukaan, juga janganlah terlalu bergembira dalam saat kesenangan dan ketentraman, karena keduanya akan berlalu. Menurutku bimbingan itu sangat dalam maknanya. Bagaimana menurutmu?” Dengan lemah lembut Ana bertutur kata dan mengajak Emilia menggali makna.

“Baru pertama kali aku mendengar hal seperti itu. Bagiku juga sangat mengesankan bimbingan itu. Meskipun memang sangat sulit untuk melakukan sesuai nasihat itu.” Emilia menanggapi semampunya dia mengerti.

“Memang, Lia.. Tidak mudah melakukan sesuai nasihat itu. Aku belajar, kita harus mempunyai keterlepasan untuk tidak terlalu bersedih ataupun tidak terlalu bergembira.”

“Iya, kalau bisa melakukan hal itu, sepertinya hidup akan menjadi lebih tenang. Tidak terlalu cemas, juga tidak menjadi sombong.”

“Wah, iya Lia.. Aku setuju dengan apa yang kamu katakan.”

Percakapan bermakna mereka berdua sungguh menarik, terlebih bagaimana mereka belajar memahami makna kehidupan.

Lena pun terkesima, “Menarik sekali percakapan kalian. Aku tak pernah sama sekali memikirkan hal seperti itu.” Tanpa kata, Emilia hanya tersenyum membalasnya.

Tawa keceriaan Ana dan Emilia mengiringi Emilia dan Lena menyusuri ruangan hitam putih menuju lorong yang sangat gelap yang kemudian diikuti kemilau cahaya di hadapan mereka.

Emilia dan Lena telah kembali. Perlahan mereka membuka mata. Keduanya menyeka sisa-sisa air mata yang membasahi wajahnya. Tiupan angin sepoi membelai rambut mereka yang panjang terurai dan juga dedaunan dan bunga-bunga taman.

“Sungguh aku tak menduga kisahmu semenakjubkan itu, Lia.” Lena tersenyum dan menepuk jemari Emilia.

“Semoga kita bisa terus belajar dalam kehidupan ini.” Emilia singkat menanggapinya.

“Terus, bagaimana perjuanganmu selanjutnya? Hingga kamu bisa mendapatkan kebahagiaanmu?” Lena bertanya dan membuka percakapan bermakna mereka berdua.

“Iya, dari kesedihan yang kualami, aku belajar menjadi lebih tenang, lalu bangkit dan tidak menyerah. Aku berhenti mengemis dan melanjutkan bersekolah. Sepulangnya, aku berjualan asongan di terminal. Aku sangat terinspirasi dari kepedulian Ana sebagai sahabat baik yang selalu menemani, dan juga dari nasihat yang menyentuhku untuk belajar terlepas tidak terlalu bersedih ataupun terlalu bergembira. Hidup ini dijalani dengan ketenangan, karena dari ketenangan muncul kebahagiaan.”

Emilia dan Lena pun tersenyum.

“Iya, aku setuju, Lia. Aku juga merasakan bagaimana kamu juga melakukan kepedulian sebagai sahabat yang baik padaku. Tentang mendapatkan kebahagiaan dengan menjadi terlepas dan lebih tenang, aku akan mencoba hal itu. Meskipun tidak akan mudah bagiku.” Dengan senyuman lepasnya, Lena menunjukkan dirinya jauh lebih tenang sekarang.

“Oh iya, lalu bagaimana dengan orang tuamu?”

“Aku masih berusaha mencari mereka, Lena. Aku sudah memaafkan apa yang sudah berlalu, dan tidak mau menyimpan kebencian pada mereka. Seandainya Tuhan berkehendak, kita akan dipertemukan lagi. Mohon doanya ya, semoga keluargaku dipersatukan kembali.”

“Sungguh, aku juga terinspirasi dari semangatmu yang pantang menyerah, Lia. Aku juga akan berusaha untuk mencegah perceraian orang tuaku dan kita akan menjadi keluarga yang bahagia lagi. Mohon doakan keluargaku juga, Lia.”

“Iya, kita sama-sama berusaha, dan sama-sama saling mendoakan.”

Bel tanda jam istirahat berakhir berbunyi. Kedua sahabat itu saling tersenyum dan bergenggaman erat. Mereka beranjak meninggalkan taman dengan memiliki ketenangan dan harapan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *