09 Oct

Asa – Ransel Petualang #1

“Asa – Ransel Petualang” adalah karya [fantasi9] yang pertama.

[fantasi9] adalah karya fiksi fantasi yang terdiri dari 9 chapter. Setiap chapter-nya akan terbit pada tanggal 9, 19, dan 29.

Inilah “Asa – Ransel Petualang #1”

1. Aku Hidup!

“Asa…”

Kata itu yang pertama kali terdengar olehku. Aku mengamati sekitar. Aku hidup!

“Asa…”

Aku merasakan suara itu memanggilku.

“Asa…” Suara itu terdengar lagi.

“Ayo cepat makan!”

“Sebentar, Bu.. Sebentar. Akhirnya…… Wohooo… Ranselku sudah jadi!” Teriak seorang pemuda yang terlihat sangat bahagia di depanku. Dia orang pertama yang kulihat. Dia orang pertama yang menyentuhku. Dia pasti yang menciptakan aku, menjadikan aku hidup. Dia adalah penciptaku.

Aku sangat bahagia. Bisa kurasakan juga betapa bahagianya penciptaku. Terima kasih penciptaku. Aku hidup. Aku adalah Asa. Aku suka nama Asa, kata pertama yang kudengar. Tapi, ungkapan terima kasih dariku sepertinya tak dimengerti penciptaku. Aku sangat berharap dia bisa merasakan apa yang kurasakan.

Lalu, dengan bersemangat dia pergi meninggalkanku.

Aku mengamati sekitar. Aku berada di suatu ruangan dan aku bisa melihat di luar sana tampak gelap. Angin bertiup ke arahku dari celah jendela yang terbuka, menyapaku dengan ramah. Sinar lampu menyorotiku yang baru saja bisa melihat-lihat sekitar ini. Suara hewan-hewan meriah sekali di luar kegelapan sana, aku tak tahu hewan apa itu, tapi aku merasakan sepertinya mereka antusias karena menyambutku yang baru saja hidup. Ya, aku hidup. Aku Asa. Aku sangat bahagia!

“Asa.. dari tadi ayah sama ibu menunggumu untuk makan malam. Lama sekali, Sayang..” Suara itu kembali terdengar memanggil namaku. Aku bisa mendengar suara itu berasal dari ruangan di dalam.

“Bu.. Aku ini sudah jadi laki-laki dewasa. Sudah bertualang ke mana-mana sendiri, naik gunung, masuk hutan, pergi ke kota-kota yang jauh, masak masih diperlakukan kayak anak kecil.” Nah suara penciptaku juga terdengar. Ohh, aku tahu sekarang. Asa adalah namanya, penciptaku. Baiklah, mulai sekarang kusebut dia Asa penciptaku sebagai rasa terima kasihku padanya.

“Iya.. tapi ayah sama ibu sudah nunggu lama. Kita maunya makan malam sama-sama. Kamu jarang di rumah, main terus, jadi kita kan jarang makan malam bersama. Kan kita juga kangen sama anak satu-satunya yang bandel sukanya keluyuran terus ini. Kalau Asa nggak di rumah, rasanya sepi rumah ini.”

“Iya deh, selagi masih di rumah waktunya untuk keluarga.” Suara Asa penciptaku mulai lirih tak begitu jelas, dan beberapa saat tak terdengar suara lainnya.

“Ohya.. Ranselku sudah jadi! Tunggu sebentar, akan kutunjukkan.” Suara Asa penciptaku terdengar sangat bersemangat.

Lalu dia berlari gesit menghampiriku. Wajahnya yang sangat antusias membuatku sangat bahagia. Aku langsung dipegang dan dibawanya menuju ke ruangan di mana suara mereka berasal.

“Naahh.. ini ransel hasil karyaku yang pertama, yang kubuat dengan tanganku sendiri! Gimana menurut ibu dan ayah?” Asa penciptaku menunjukkan diriku pada kedua orang yang disebutnya ibu dan ayah. Aku melihat senyuman bahagia ibu dan ayah, membuatku semakin bahagia.

Aku semakin mengerti sekarang, aku hidup sebagai ransel. Betapa bangga dan bahagianya aku karena tercipta sebagai ransel pertama Asa penciptaku. Aku pun semakin berterima kasih karena aku tercipta oleh tangannya sendiri.

“Waahh, hebat! Sebagai hasil karyamu yang pertama, itu sudah sangat bagus! Terlihat rapi, simpel, dan kuat.”

“Iya, ini karena bantuan ayah yang selama ini mengajariku.” Aku juga merasa berterima kasih pada ayah, karena dia Asa penciptaku bisa menciptakanku.

“Akhirnya Asa berhasil membuatnya sendiri. Selamat ya Sayang. Jadi sekarang nggak perlu minta dibuatkan ayah kan.” Ibu juga berkata bangga. Aku baru melihat ibu, suara dia yang pertama kali memanggilku Asa. Terima kasih Ibu, telah memberiku nama sesuai penciptaku.

“Iya, Bu.. Aku sudah mulai mengerti cara-caranya, dan akan terus belajar membuat lagi nantinya. Siapa tahu, bisa bangun bisnis seperti Ayah. Kan cocok juga untukku yang suka petualangan, trus bisnis ransel petualang!” Aku melihat semangat yang luar biasa dari Asa penciptaku. Aku adalah Asa, ransel petualang!

“Semoga sukses. Eh, tapi jangan lupa kuliahmu harus selesai dulu! Setelah ini mulai mengerjakan skripsi, kan? Jadi, jangan petualangan melulu..” Ibu berkata dengan nada tinggi, sedangkan Asa penciptaku hanya tertawa saja. Aku pun ikut tertawa meskipun aku tidak mengerti maksudnya. Aku sangat bahagia, karena hidup sebagai ransel petualang, dan juga karena hidup di tengah-tengah kebahagiaan keluarga Asa penciptaku.

Asa penciptaku tiba-tiba membawaku pergi dari ruangan tempat keluarganya berkumpul.

“Lho, Asa.. mau ke mana? Kok cepat sekali makannya, kita kan sedang makan bersama.” Ibu berbicara padanya. Oh, aku tahu sekarang, yang mereka lakukan di ruangan ini adalah makan bersama. Aku sangat suka suasananya, terasa sangat menyenangkan bersama keluarga Asa penciptaku.

“Asa capek Bu, beberapa hari lembur kerjain ransel ini. Asa mau masuk kamar dulu ya. Makasih Ayah, Ibu..” Aku melihat Asa penciptaku tersenyum pada ayah ibunya. Meskipun dia ceria, aku tetap melihat wajahnya yang lelah. Semua demi aku. Aku semakin tak bisa ungkapkan besarnya rasa terima kasihku.

“Iya, Sayang.. Selamat istirahat.” Suara ibu mengiringi langkah Asa penciptaku pergi. Aku dibawa naik, sepertinya ada ruangan lagi di atas.

Aku dibawanya dengan diangkat ke punggungnya, diletakkan di belakang Asa penciptaku. Aku tak bisa melihat wajahnya sekarang. Tapi aku bisa merasakan semangat maupun lelahnya. Ini pertama kali aku dibawanya seperti ini. Nyaman sekali rasanya.

Lalu, aku masuk ke kamar Asa penciptaku, ruangan yang gelap. Asa penciptaku tak menyalakan lampu di kamarnya. Aku tidak bisa melihat dengan jelas. Asa penciptaku meletakkan aku di suatu tempat, tepat di sebelahnya yang langsung berbaring di atas tempat, yang sepertinya membuat dia sangat nyaman. Aku melihatnya menggerak-gerakkan tubuhnya, lalu kaki dan tangannya. Dia berteriak pelan dan panjang, “Aaahhh……”

“Selamat malam sang bintang. Cerah sekali kau malam ini. Tapi aku sangat lelah, tak sanggup berlama-lama bercengkrama denganmu.” Berbicara dengan siapa Asa penciptaku ini. Tak ada orang di ruangan ini. Dia hanya menatap ke ujung atas ruangan yang terlihat gelap dengan titik-titik putih berkilauan di luar sana. Apa itu, aku tak tahu.

“Sang bintang, perkenalkan.. ini ransel hasil karyaku yang sudah jadi, seperti yang sudah kuceritakan dari kemarin. Keren kan? Ransel ini akan selalu menemani petualanganku.” Asa penciptaku menepuk-nepuk tubuhku. Tapi dia tak berbicara padaku, dia masih berbicara dengan titik-titik berkilauan itu. Entah, sepertinya dia sudah terbiasa berbicara dengan mereka.

“Sobat, kau sudah siap kan? Kita akan bertualang bersama. Kau akan kubawa ke tempat, di mana kita bisa melihat langit membentang dan bintang-bintang cemerlang. Kita akan berpetualang memburu bintang.” Asa penciptaku.. Asa penciptaku.. Dia berbicara padaku. Sungguh.. Sungguh.. bahagianya aku, tak tertahan hasratku untuk berinteraksi dengannya.

Ini pertama kalinya Asa penciptaku berbicara denganku. Apakah dia tahu apa yang kukatakan? Apakah dia bisa merasakan apa yang kurasakan?

Tapi setelah berkata seperti itu, yang memberiku kebahagiaan sebagai ransel petualang, Asa penciptaku tiba-tiba terdiam. Matanya tertutup. Kenapa dia? Apa ini karena dia lelah? Semoga saja saat dia membuka mata rasa lelahnya hilang dan muncul lagi semangat bertualangnya.

Suasana sangat sunyi. Aku tiba-tiba juga melihat ke ujung atas yang tampak titik-titik berkilauan itu. Asa penciptaku menyebutnya sang bintang. Mungkin mereka bisa kuajak berbicara, seperti Asa penciptaku mengajaknya bicara.

“Hai, sang Bintang. Perkenalkan aku Asa ransel petualang.”

Aku sangat terkejut. Kelap-kelip sang bintang itu turun dari ujung atas ruangan yang gelap, perlahan-lahan penuh keanggunan menuju ke arahku. Titik-titik putih yang cemerlang itu tampak nyata di depanku sekarang. Bintang-bintang itu mengelilingiku, dan ruangan gelap ini menjadi bernyala diliputi keceriaan sang bintang yang menari-nari. Indah sekali… Lagi-lagi, membuatku begitu bahagia. Meski mereka tak membalas sapaanku, tidak berbicara padaku, aku bisa merasakan kelap-kelip mereka yang penuh pesona  itu untuk mengucapkan selamat padaku yang telah tercipta.

Waktu berjalan pelan. Aku benar-benar menikmati kebersamaan dengan sang bintang. Walaupun seisi ruangan menjadi terang karenanya, Asa penciptaku masih saja diam tak bergerak. Aku ingin dia juga melihat keindahan ini.

Keadaan di dalam kamar tetap tenang. Aku masih dalam posisi nyamanku. Sang bintang mulai bergerak meninggalkanku, kembali menuju ke ujung atas ruangan. Kulihat ujung kamar ini ternyata sebuah jendela yang lebar. Sang bintang lenyap bersama suasana di luar sana yang mulai tampak terang.

Sepertinya Asa penciptaku yang menggerak-gerakkan kaki tangannya tak lama lagi akan bangun. Semoga saja rasa lelahnya telah hilang, dan kita bisa segera berpetualang.

“Selamat pagi, Sobat!” Asa penciptaku menyentuhku dan berbicara padaku, “Kamu siap bertualang hari ini? Ayo kita berangkat!” Asa penciptaku langsung bangkit dari tempat dia berbaring. Dia segera membuka pintu dan keluar entah ke mana.

Kata-kata Asa penciptaku membuatku tak sabar untuk segera berpetualang. Hari ini pasti seru. Petualangan seperti apa yang akan aku jalani hari ini dengannya.

Beberapa saat setelah aku sabar menunggu, pintu terbuka. Asa penciptaku masuk ke kamar ini lagi. Dia sudah terlihat sangat segar, wajahnya tak lagi lesu, rambutnya juga basah mengkilat. Aku suka sekali melihat senyuman ceria di wajahnya. Wah, pasti seru sekali petualangan hari ini.

Asa penciptaku menghampiriku, “Ayo sobat, saatnya bertualang! Jangan cuma bengong di kamar yang nyaman ini.” Dan dia langsung membawaku, meletakkanku di punggungnya. Ini posisi yang paling aku sukai, daripada tergeletak diam saja. Semakin kurasakan semangatnya yang besar saat aku bersentuhan langsung dengan tubuh Asa penciptaku, walapun aku tak bisa melihat wajah dan matanya.

Kita turun menuju ruangan bawah. Aku akan bertemu ibu dan ayah. Aku senang sekali bertemu mereka, karena sambutan hangat mereka membuatku seperti anggota dari keluarga ini.

“Asa, mau ke mana kamu?” Kita langsung bertemu ibu yang sedang merapikan tempat makan bersama.

“Aku mau ke tempat kerja ayah. Ayah di sana kan, Bu?” Asa penciptaku akan membawaku bertemu ayah. Apa yang akan dilakukannya.

“Iya, dari tadi ayah sudah ada di sana. Memangnya ada apa? Oh ya, panggil ayahmu sekalian. Sarapan sudah siap, ayo sarapan sama-sama.”

“Okey, Bu!” Asa penciptaku sedang terburu-buru sampai dia meninggalkan percakapan dengan ibunya. Aku dibawa entah ke mana, menuju ruangan baru. Aku belum tahu.

Dan, saat memasuki ruangan ini seketika aku merasa takjub. Begitu banyak ciptaan sepertiku, ransel petualang. Aku yakin di sini sumber inspirasi Asa penciptaku menciptakan aku. Dia pasti banyak belajar dari sini.

Asa penciptaku melepaskan aku, meletakkanku di atas meja yang juga ada beberapa ransel petualang lainnya.

“Ayah, selamat pagi!” Dari tempatku ini aku bisa melihat senyuman ceria Asa penciptaku pada ayahnya. Ayah juga terlihat bahagia.

“Selamat pagi, Asa! Gimana tidurmu semalam setelah beberapa hari lembur?”

“Puas banget, Yah! Nih Asa udah segar lagi. Asa mau langsung presentasi ke Ayah tentang ransel petualang hasil karya pertamaku.” Asa penciptaku menghampiriku, memegangku. “Aku membuatnya dengan penuh cinta dan semangat jiwa petualangan!” Memang bisa kurasakan cintanya saat dia menyentuhku seperti ini, juga bisa kurasakan semangat petualangannya.

Aku merasa sangat antusias karena akan diperkenalkan pada ayah. Sebenarnya aku juga akan semakin mengenal tentang diriku sendiri, karena sejak aku tercipta, aku belum mengerti diriku sendiri, mungkin karena aku sebagai ransel petualang belum digunakan sepenuhnya.

“Setelah mengumpulkan hasil kerjaku selama ini yang ikut produksi tas Ayah, ikut mengamati dan belajar langsung, aku jadi punya gambaran untuk membuat ranselku sendiri.”

“Oh, jadi uangnya nggak cuman habis dipakai naik gunung ya?”

“Enggak lah. Ayah kan tahu, membuat ranselku sendiri juga jadi motivasiku dalam bertualang.”

“Oh begitu.”

“Nah, seperti informasi dari Ayah, aku membuat ransel ini dari bahan cordura karena daya tahan kainnya yang kuat, tahan rembesan air, dan juga tahan lecet. Sangat cocok untuk ransel petualang. Juga dilengkapi busa untuk bagian punggung dan tali tas bagian pundak dan pinggul. Aku pilih kain berwarna hitam untuk ransel ini, biar simpel dan elegan.”

“Bagus! Itu kenapa ada ritsleting…”

“Tunggu dulu, Yah. Ada kejutan lainnya. Sekarang aku buka kedua sisi ritsleting samping.”

“Nah itu maksud ayah.”

“Lihat apa yang terjadi, Yah.” Asa penciptaku membuka bagian sampingku dari atas ke bawah. Lalu tubuhku ditarik ke depan, dan aku berubah jadi lebih besar.

“Wah, bertambah besar ranselnya.” Aku terkejut saat ayah kagum.

“Tunggu dulu, Yah. Masih ada kejutan lainnya. Di dalamnya masih ada lagi ritsleting yang bisa dibuka.” Asa penciptaku melanjutkan membuka bagian sampingku, kali ini dari depan ke belakang. Lalu, dia menarik tubuhku ke atas.

“Nah, lihat ini perubahannya lagi.. Bertambah tinggi! Rangka aluminiumnya juga bisa ditarik mengikuti tinggi ranselnya.” Sekarang aku melihat Asa penciptaku yang bangga menunjukkan diriku pada ayah. Ayah semakin kagum. Jangankan mereka berdua, aku sendiri pun terkejut. Aku bisa menjadi lebih besar, tinggi, dan gagah.

“Wah, hebat kamu Asa! Dari ransel punggung bisa jadi ransel gunung. Inovasi yang unik. Apalagi ini karya pertamamu. Ayo, tunjukkan kejutan lainnya!”

Asa penciptaku dipuji, dan aku melihatnya tetap tenang, “Terima kasih, Ayah. Desain ini kuciptakan karena sesuai gaya petualanganku yang fleksibel. Kadang butuh praktis saat gaya backpacker, kadang butuh bawa banyak barang untuk mendaki gunung. Jadi, dari ransel ukuran 40L bisa berubah menjadi ransel gunung 60L. Ya, inovasi nantinya seiring waktu dan proses terus belajar. Itu kan yang aku pelajari dari Ayah.”

“Asa-RP. Tulisan ini apa maksudnya?” Ayah bertanya sambil menyentuhku.

“Tulisan Asa-RP di tali bahu sebelah kiri adalah identitas ransel ini, Yah. Dan bisa jadi suatu saat adalah merek ransel ini kalau aku sudah serius menjalankan bisnis ransel petualang. Asa-RP adalah Asa-Ransel Petualang. Ada filosofinya ini Yah kenapa aku letakkan di tali bahu sebelah kiri, ya biar dekat di jantungku, jadi bisa merasakan detak semangatku dalam hidup penuh petualangan ini. Aku yakin dia hidup, dia bisa merasakan detak jantungku.”

“Ada-ada saja kamu!” Ayah tertawa, lalu merangkul pundak Asa dengan bangga. Asa juga tertawa. Aku pun bisa merasakan tawa bahagia mereka berdua.

Ya Asa penciptaku, aku hidup! Aku bisa merasakan semangat petualangan dari detak jantungmu. Terima kasih Asa penciptaku. Dengan detak semangat petualangan kita menjelajah bersama. Itu ikatan kita berdua, meskipun tak bisa saling bicara.

“Yah, kita ditunggu ibu buat sarapan sama-sama. Ayo kita sarapan dulu, sebelum ibu marah lagi.”

“Okey, siap!” Mereka berdua berjalan keluar ruangan dengan ayah tetap merangkul Asa penciptaku dan mereka masih tertawa.

Sesaat setelah Asa penciptaku dan ayah pergi meninggalkan ruangan yang dipenuhi ransel ini, suasana menjadi hening. Baiklah, aku akan sabar menunggu Asa penciptaku di sini, semoga setelah ini aku bisa merasakan bertualang dengannya.

“Hey, Ransel baru, keren juga kamu. Salam kenal dariku, Aro si ransel gunung.” Aku terkejut saat tiba-tiba mendengar suara dari salah satu ransel yang menyapaku. Ternyata aku bisa mendengarkan dia berbicara, jadi aku sepertinya bisa berhubungan langsung dengannya. Pasti akan menyenangkan sekali punya teman.

“Terima kasih. Aku Asa ransel petualang. Senang sekali berkenalan denganmu, Teman. Ternyata kita bisa saling bicara ya?”

“Iya lah! Aku dulu juga baru mengerti setelah baru tercipta. Kita bisa saling berinteraksi dengan ciptaan-ciptaan yang bahannya sejenis. Tercipta dari bahan kain dan benang maksudnya.” Ransel lainnya yang berada di sebelah Aro si ransel gunung itu juga berkata, memberikan penjelasan untukku.

“Selamat datang di dunia ransel, Ransel baru!” Ransel lainnya yang berwarna merah cerah itu juga berkata ramah menyapaku.

“Semoga kamu menikmati dunia petualanganmu dengan Asa, anak pemilikku.” Ternyata aku juga bisa berbicara dengan yang bukan ransel. “Aku Jo jaket milik ayahnya Asa, salam kenal.”

“Aku merasa sangat bahagia sekali bisa berbicara dan berteman dengan kalian, Teman-teman baruku.” Aku merasakan kebahagiaan lainnya, selain bahagianya saat pertama kali tercipta.

“Ya, kita juga bisa melihat semangatmu, Ransel baru! Semangat petualangan karena tercipta dari semangat petualangan Asa.” Teman-teman baruku menyambutku dengan bersuka cita, membuatku semakin dekat dengan mereka.

“Memang benar. Asa penciptaku tak hanya memberiku kehidupan, tapi semangatnya juga diturunkan kepadaku.” Aku katakan dari mana sumber semangatku berasal.

“Itulah anugerah kita,” Aro si ransel gunung langsung menjelaskan, “kita akan mempunyai sifat dan karakter seperti pencipta kita. Seperti jiwa, karakter, dan wawasan. Tapi, jelas ciptaan tak mungkin sederajat dengan penciptanya. Tetap ada batasnya, misalnya saja wawasan kita tak seluas pencipta kita. Dan juga, memang kita tak bisa secara langsung berinteraksi dengan pencipta kita, tapi jiwa kita terhubung.”

“Wah luar biasa! Ternyata ini alasannya kenapa aku merasakan cinta dan semangat Asa penciptaku. Aku merasa sangat dekat dengannya, tapi tak bisa berhubungan langsung dengannya. Ternyata jiwa kita yang terhubung, jiwa petualangan yang kuterima dari Asa penciptaku.”

“Ya, pantas saja kamu masih bingung. Kamu baru tercipta beberapa jam yang lalu.” Semua teman-teman baruku langsung tertawa, aku juga ikut tertawa.

“Ini kebahagiaan lainnya yang kurasakan selain menikmati keindahan bintang-bintang yang tadi menari berkelap-kelip mengelilingiku.”

“Apa kau bilang? Sejak kapan bintang-bintang bisa menari mengelilingimu?” Aro yang penasaran langsung bertanya.

“Memangnya kamu tak pernah merasakannya?”

“Sepertinya, karena begitu kuat hasrat Asa saat menciptakanmu, sehingga kecintaan terbesarnya selama ini, pada bintang-bintang, ikut menurun padamu sebagai ciptaannya. Sejak kecil aku selalu menemani ayah Asa yang mengajaknya melihat bintang-bintang di alam bebas. Asa kecil begitu jatuh cinta pada kemegahan langit yang bertabur bintang. Hingga dewasa, masih juga kulihat hasratnya itu tak pernah pudar.” Jo jaket milik ayah menjelaskan hal itu padaku. Teman-teman lainnya hanya diam memperhatikan dan merasa aneh.

Jo melanjutkan, “Itu memang terjadi pada ciptaan yang benar-benar dicipta dengan cinta sepenuhnya. Hasrat penciptanya menurun ke karya ciptaannya. Mimpi dan fantasi penciptanya menjelma menjadi nyata. Nikmati saja, Asa! Kau akan begitu menikmati keindahan dari hasrat penciptamu pada petualangan dan bintang-bintang.”

Aku semakin kagum dan tak bisa berkata-kata. Sungguh tak sabar rasanya ingin segera berpetualang merasakan langsung keindahan nyata dari hasrat Asa penciptaku pada petualangan dan bintang-bintang.

“Mau ke mana lagi, Asa?” Suara yang nyaring menghentikan percakapanku dengan teman-teman baruku. Itu suara ibu pada Asa yang bergegas menghampiriku.

Ibu sedang dalam keadaan yang tak semanis tadi malam saat di ruang makan bersama. Asa penciptaku segera mengangkatku. Aku berdebar, saat ibu menarik sebagian tubuhku. Tangannya meremas tali bahu.

“Mau ke mana? Tidak boleh! Kamu sudah terlalu sering keluar rumah. Sekarang saatnya fokus dengan kuliahmu.”

Ada apa ini, aku bingung dan berdebar-debar melihat Asa penciptaku tetap diam tak menjawab dan wajahnya begitu tegang. Sedangkan ibu, kenapa ibu menjadi begitu keras?

Nantikan “Asa – Ransel Petualang #2” pada tanggal 19 Oktober 2017

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *