15 Sep

Apa yang Membuat Koper Bahagia?

Akhirnya aku akan meninggalkan tempat ini. Aku dibeli seseorang dan akan bersamanya ke mana-mana.

Berakhir sudah lamanya aku menunggu di toko koper ini. Aku bosan diam terus dan hanya berteman dengan teman-teman koper yang terpajang menawan.

Aku tahu semua koper berkualitas tinggi dan mewah, termasuk aku. Tapi aku tidak suka dengan kesombongan mereka. Untung saja aku akan segera pergi meninggalkan tempat ini.

Setelah aku pikirkan lagi, bukan kesombongan teman-teman yang membuatku jenuh selama berada di toko ini.

Aku tak tahu apa yang kurasakan. Sangat lama aku menunggu di toko ini. Dan aku tidak menemukan apa yang membuatku bahagia. Aku belum menemukannya sejak aku diciptakan dan kemudian diletakkan di toko ini.

Setiap hari, ramainya suasana toko karena teman-teman yang selalu saja bercanda, saling menyombongkan diri, saling mengejek, memang membuatku ikut tertawa. Tapi bukan tawa bahagia. Aku tertawa untuk menutupi kesedihanku.

Dan sekarang, saat aku sudah digenggam dengan genggaman yang sangat kuat oleh pemilik baruku, seorang lelaki muda, aku merasakan harapan kebahagiaan.

Aku bersemangat sekali saat bersamanya keluar dari toko ini.

Dunia baru. Aku melihat banyak orang berjalan ke sana kemari. Dan hey, mereka juga membawa koper seperti aku. Koper-koper itu ceria sekali tampaknya. Aku tahu, digenggam dan dibawa berjalan kaki seperti ini membuat mereka bahagia. Aku juga merasakannya sekarang. Melihat banyak hal baru, mendengar suara keramaian kota, dan merasakan jejak langkah pemilikku yang bersemangat. Aku senang sekali.

Sesampainya di rumah pemilikku, aku baru mengetahui siapa namanya. Steve, begitu istrinya memanggilnya.

Lalu Steve membawaku ke ruang kerjanya. Bersemangat sekali dia, sama seperti aku. Dengan cekatan dia membukaku dan memasukkan buku-buku, tumpukan kertas, dan alat-alat tulis. Seketika tubuhku menjadi penuh sesak. Setelahnya aku ditinggalkan sendirian di ruangan ini. Steve keluar entah ke mana.

Pagi hari datang. Steve muncul. Dia sudah sangat rapi. Genggaman tangannya yang kuat membawaku pergi bersamanya untuk bekerja. Wajahnya ceria, tubuhnya tegap bersemangat, perkataannya penuh percaya diri. Aku tak sabar menjalani hari yang pasti akan menyenangkan ini.

Seperti kemarin, aku berangkat bekerja bersama Steve dengan berjalan kaki. Aku suka sekali langkah kakinya yang bersemangat. Kulihat juga banyaknya orang yang sibuk pergi bekerja. Kutemui kawan-kawan koper. Kusapa mereka satu per satu. Mereka juga bersemangat hari ini.

Oh! Aku melihat ada beberapa koper yang tampak sedih, lemas, tak bersemangat. Padahal pemiliknya membawanya dengan bersemangat dan berjalan sangat cepat. Apakah berarti pergi bekerja seperti ini tak membuatnya bahagia? Apakah aku juga akan merasakan hal seperti itu? Entahlah, mungkin nanti aku akan mengerti.

Sesampainya di tempat Steve bekerja, dia disambut dengan ramah oleh orang-orang di sini. Mereka menyebut tempat ini adalah kantor. Tempat yang cukup menyenangkan. Ya, bagiku jauh lebih baik daripada toko koper.

Steve membawaku ke ruang kerjanya. Ternyata tak hanya di dalam tubuhku banyak buku-buku, di ruangan ini juga banyak sekali tumpukan buku. Tertumpuk berantakan. Aku merasa tak nyaman, karena selama ini aku terbiasa di toko koper yang rapi.

Steve seorang pekerja keras. Dia bergerak ke sana kemari sangat cepat, seperti sedang melakukan banyak hal. Dia mengambil buku dari dalamku, lalu pergi entah ke mana tanpa mengajakku. Agak lama, lalu dia kembali dan mengambil beberapa kertas yang sudah dipilihnya, pergi lagi.

Seharian ini dia melakukan pekerjaan seperti itu. Aku tidak tahu ke mana dia pergi dan melakukan pekerjaan apa.

Di akhir sore, Steve akhirnya bisa duduk tenang cukup lama. Dia menulis banyak hal, lalu mengetik apa yang ditulis ke komputernya.

Steve pagi tadi sangat berbeda dengan Steve sore ini. Dia terlihat sangat lelah dan semangatnya menghilang. Genggamannya padaku saat pulang juga seperti kehabisan tenaga. Lemas sekali. Langkah kakinya berat, yang mungkin saja karena beratnya mengangkatku yang kembali terisi penuh, atau mungkin juga karena beratnya pekerjaan dia seharian ini.

Sesampainya di rumah, seperti kemarin, aku ditaruh di ruang kerjanya. Dengan nafas lelahnya, dia mematikan lampu, lalu menutup pintu, dan aku sudah tidak melihatnya lagi di dalam ruangan gelap ini.

Pagi datang lagi. Dan aku melihat Steve masuk untuk mengambilku dengan wajah cerahnya, semangatnya sudah kembali. Aku juga ikut senang.

Kita langsung berangkat menuju kantor. Langkah kakinya tak seperti semalam. Meskipun tubuhku masih penuh terisi, tapi ternyata tak membebaninya untuk terus berjalan. Tangannya pun dengan kuat menggenggamku.

Steve memasuki ruang kerjanya dengan buru-buru, melewatkan percakapan dengan teman-temannya yang sudah ramah menyapa.

Seperti kemarin lagi, dia meletakkanku di mejanya, segera mengambil beberapa buku, dan langsung pergi. Lama dia tak segera kembali. Lebih lama dari kemarin.

Siang hari baru dia kembali. Raut wajahnya kembali berubah. Tak secerah pagi hari, saat ini dia terlihat tegang. Dia segera bekerja dengan tergesa-gesa di depan komputernya. Sering kali tangannya juga sibuk membuka-buka buku.

Setelah pekerjaannya selesai, dia lalu mengambilku, memasukkan buku dan kertas, kemudian pergi. Sekarang dia mengajakku. Baiklah, sepertinya aku akan mengerti ke mana dia pergi, dan apa yang menyebabkannya sibuk dan tegang begini.

Kita masih berjalan di dalam kantor saja, tapi sesekali juga menaiki beberapa tangga. Steve terburu-buru sekali. Tubuhku terguncang-guncang.

Kita sampai di depan sebuah pintu. Steve mengetuknya. Lalu kami masuk. Genggaman tangan Steve kuat sekali menekanku. Dia sangat tegang.

Di dalam ruangan ini, ada seorang lelaki tua yang langsung menatap Steve dengan tajam.

Sesaat setelah duduk, Steve segera membukaku dan mengambil kertas-kertas dan buku. Dia langsung mencatat banyak hal yang dikatakan pak tua itu. Aku sama sekali tak mengerti tentang pembicaraan mereka. Yang kutahu, percakapan mereka sangat serius.

Setelah percakapan dengan pak tua itu, Steve keluar dari ruangan ini. Dia tak kembali ke ruang kerjanya. Dia segera pulang dengan terburu-buru. Meskipun tubuhnya terlihat lelah seperti kemarin, tapi dia tetap memaksakan diri untuk segera pulang.

Sesampainya di rumah, tak seperti biasanya yang aku ditinggalkannya sendirian, kali ini dia tetap berada di ruang kerja melanjutkan pekerjaannya. Lama sekali dia bekerja, sampai istrinya beberapa kali datang memanggilnya. Aku bisa melihatnya sudah sangat lelah, tapi dia terus saja bekerja.

Setelah menyelesaikan pekerjaannya, dan memasukkan lebih banyak kertas dan buku ke dalam tubuhku, dia mematikan lampu dan pergi meninggalkan ruangan ini.

Tak lama, hari sudah pagi. Steve segera muncul lagi. Dia sudah rapi dan langsung mengangkat tubuhku yang lebih berat dari kemarin ini. Sungguh berat. Aku tak merasakan semangat. Bahkan aku mulai tertular apa yang dirasakan Steve. Lelah. Meskipun berjalan dengan terburu-buru, aku tak bisa merasakan semangatnya seperti saat pertama kali dia membawaku.

Apakah ini yang dirasakan koper yang tampak sedih dan lemas yang kulihat kemarin? Ketegangan seperti ini yang menyebabkannya sedih dan tak bersemangat. Aku merasakannya sekarang.

Steve terburu-buru sekali pergi ke kantor. Dengan satu tangan memegang roti yang dimakannya, tangan satunya mengangkat tubuhku yang berat. Aku melihat dia sangat tersiksa, tapi entah kenapa dia bisa melakukan hal seperti ini.

Sesampainya di kantor, suasana masih sangat sepi. Steve langsung masuk ke ruang kerjanya. Dia membuka-buka tumpukan bukunya yang berantakan, mengambil berlembar-lembar kertas, dan segera menghadap komputernya.

Terus mengetik, melihat pada buku dan kertas-kertas, menulis, mengetik lagi. Sepanjang hari, dia melakukan pekerjaan seperti itu. Bahkan untuk makan dia juga melakukannya di meja kerja setelah dia memesan makanannya lewat telepon.

Menjelang hari gelap, dia menyelesaikan pekerjaannya. Steve menata barang-barangnya. Dan lagi, tubuhku dibuatnya penuh sesak. Aku dibawanya pergi.

Dan ternyata, kita menuju ruangan pak tua itu lagi.

Steve menunjukkan hasil pekerjaannya. Pak tua itu tidak puas. Dia marah-marah dan menggedor meja. Aku mencoba mengerti apa yang mereka bicarakan. Tapi lagi, aku benar-benar tidak mengerti bahasa mereka yang sangat tinggi. Aku ikut bersedih untuk Steve. Aku tahu dia sangat bersedih.

Dengan menanggung berat beban tubuhku dan beratnya pekerjaannya, Steve pulang. Lagi-lagi, dengan terburu-buru. Aku bisa melihat tubuhnya sangat lemah, tapi Steve terus saja memaksakan dirinya.

Sampai di rumah pun, dia langsung masuk ruang kerjanya. Entah apa yang dipikirkannya, sehingga dia tetap saja melanjutkan pekerjaannya. Wajahnya tegang, tak seperti Steve yang ceria dan bersemangat saat pertama kukenalinya.

Istrinya tiba-tiba masuk dan memarahinya.

“Kamu tidak bisa terus bekerja seperti ini. Jangan siksa dirimu!”

“Sebentar, sayang.. Aku harus menyelesaikannya..”

Istrinya menarik Steve untuk meninggalkan ruang kerjanya.

Mendadak, Steve terjatuh dan tak sadarkan diri.

“Sayang.. sayang.. Ya ampun…”

Istrinya segera membawa Steve keluar dari ruangan ini.

Aku sangat takut. Apa yang terjadi pada Steve? Apakah ketegangan dan lelah tubuhnya membuatnya terjatuh dan tak sadarkan diri seperti itu?

Sepanjang malam aku terus memikirkan Steve. Aku sangat takut dan bersedih dengan apa yang dialaminya. Tapi aku tak bisa berbuat apa-apa. Semoga saja Steve akan baik-baik saja.

Pagi hari datang. Kuharap Steve muncul seperti biasanya dengan wajah ceria dan penampilannya yang rapi. Tapi dia tak juga datang. Membuatku semakin sedih dan ketakutan.

Setelah aku lama menunggu, ternyata istri Steve yang muncul. Dia langsung mengangkat dan membawaku. Aku merasa senang, dia akan mengantarkanku pada Steve.

Kita memasuki suatu ruangan yang cukup luas. Dan aku melihat Steve berbaring lemas di atas tempat tidurnya.

“Nah, ini kan, sayang.. Terlalu banyak yang kamu kerjakan.” Istrinya meletakkanku di samping Steve.

Steve membukaku dan melihat-lihat isi di dalam tubuhku. “Iya, aku tahu. Tapi ini semua tanggung jawabku. Pekerjaan datang bertubi-tubi dan semua minta segera diselesaikan. Aku harus menyelesaikannya, kalau tidak aku bisa kehilangan pekerjaan ini.”

“Tenang dulu.. Ketakutan membuatmu jadi tegang begini, dan tentu saja itu mengganggu pekerjaanmu, kan. Iya aku tahu kamu sangat mencintai pekerjaan ini, tapi menurutku kamu juga perlu belajar mengaturnya.”

“Iya, aku terlalu tegang melakukan pekerjaan yang sebenarnya aku cintai ini. Bagaimana aku harus mengaturnya? Selama ini pekerjaanku baik-baik saja, tapi memang tekanan yang besar akhir-akhir ini mempengaruhi pekerjaanku.”

“Itulah kenapa aku ada di sini, menemanimu. Hal seperti ini juga bisa kita bicarakan bersama, tak hanya menjadi bebanmu sendiri.”

“Terima kasih, sayang..”

Steve mengambil salah satu buku dari dalam tubuhku.

“Ini daftar semua pekerjaanku yang harus selesai dalam minggu ini.”

“Kenapa tidak membuat jadwal saja, mana yang perlu dikerjakan dulu, atur alokasi waktu antara bekerja dan hal lainnya. Kerjakan sedikit demi sedikit hari demi hari. Satu per satu, sampai semua selesai.”

“Oh bisa juga, ya.. Sungguh aku tak berpikir seperti itu sebelumnya. Selama ini, aku menyelesaikan semua pekerjaanku secara cepat dan acak saja. Mungkin ini sebabnya ketika semua pekerjaan sudah menumpuk, aku kesulitan menyelesaikannya.”

“Baiklah nanti saat kamu sudah pulih, aku bisa membantumu menyusun jadwal.”

“Terima kasih, sayang. Baiklah. Ini berarti aku harus belajar untuk bekerja lebih sistematis. Kerjakan setahap demi setahap, bukannya semua langsung dilahap.”

Mereka berdua tertawa. Aku ikut senang melihat mereka berdua. Aku juga senang karena Steve menjadi lebih ceria.

“Kan sayang juga koper yang bagus ini kalau kamu siksa dengan mengisi penuh semua bukumu. Nanti cepat rusak lho..” Syukurlah keluhanku tersampaikan. Istri Steve menepukku lembut, lalu tangan Steve memegangnya. Mereka berdua menyentuhku. Mereka berdua kembali tertawa. Aku juga ikut tertawa bahagia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *