15 Aug

Lahan Kosong Tersisa

Sekumpulan remaja belia sedang bermain sepak bola di lahan sempit yang tersisa dari padatnya pembangunan kota, dan mereka sangat menikmati permainan di sore yang mendung gelap itu, sangat menikmati sekali, karena mereka sadar ini akan menjadi hari-hari terakhir mereka menikmati bermain sepak bola, sejak pondasi bangunan sudah mantap terpasang mengelilingi lahan itu, dan tak akan ada lagi lahan kosong tersisa untuk mereka.

Hari ini, pekerjaan proyek bangunan sedang libur. Itu sebabnya mereka tak membuang kesempatan bersenang-senang bermain bola, sebelum proyek dilanjutkan dan kokohnya beton menyirnakan keceriaan masa-masa remaja mereka.

Tetapi ada yang aneh dari keceriaan penuh tawa mereka. Keceriaan yang diselimuti persaingan dan kebencian. Keceriaan yang hanya terjadi antar kelompok. Dan dari nuansa persaingan tampak dua kelompok yang saling membenci. Tentu saja mereka saling melawan, terus mencoba mencetak sebanyak mungkin gol, mencoba bertahan sebaik mungkin, dan tak jarang permainan kasar muncul. Ya, mereka sangat menikmati permainan, tapi suasana panas juga tak terelakkan.

Bola plastik yang mereka sepak ke sana kemari, yang melayang tinggi karena ringannya saat ditendang asal-asalan ke atas, yang penyok karena tipisnya saat kedua kaki yang saling emosi bertabrakan, menunjukkan keseruan permainan mereka akan berubah menjadi pertengkaran, yang sebenarnya bukan karena sepak bola, tapi.. ya, karena kebencian.

Orang-orang di sekeliling yang sibuk dengan aktivitasnya tak memperhatikan remaja-remaja yang dianggapnya kurang kerjaan sedang seru-serunya berebut bola plastik yang sudah menggelinding tak sempurna. Para remaja tak akan berhenti bermain bola, kecuali sampai bolanya pecah jadi dua. Bahkan, orang-orang pun tak akan peduli jika saja bolanya pecah jadi dua.

Keadaan semakin memanas. Sudah tak ada lagi tawa. Gol berbalas gol, tendangan kasar pun saling bergantian, dorong-dorongan terjadi, kata-kata kasar dan caci maki menaikkan tensi mereka para darah muda. Tapi pertengkaran belum pecah, mungkin saja karena bolanya juga belum pecah, jadi mereka tetap melampiaskan gejolak emosinya pada si plastik kulit bundar.

Langit bergemuruh. Awan semakin gelap. Petir menyambar.

Orang-orang yang masih sibuk sendiri dan para remaja yang juga belum berhenti, sadar akan turun hujan yang sangat deras, tapi mereka semua tetap asyik dengan dunianya.

“Braakkk!!!”

Bola plastik akhirnya pecah. Kedua kaki yang bertabrakan saling kesakitan. Mereka berdua tersungkur di atas tanah. Bukannya kawan-kawannya datang menolong, malahan dengan teriakan menderu mereka saling menyerbu. Langit semakin bergemuruh seperti genderang perang. Pukulan, tendangan, tak peduli apapun gerakannya terjadi secara membuta, semua hanya karena lampiasan emosi.

Dan sungguh suatu ironi, masyarakat sekitar yang awalnya tak peduli keberadaan para remaja bermain bola, kini bersorak-sorai seru sekali menikmati tontonan perkelahian ini. Tak ada seorang pun mencoba melerai. Sungguh, suatu ironi.

Seketika petir meledak. Sekejap hujan turun sangat deras. Sangat deras. Orang-orang langsung berlarian berhamburan pulang. Para remaja masih pukul-pukulan, dan makin beringas saja saat diguyur hujan.

Wajah mereka yang basah kuyup air hujan sudah tampak babak belur. Mereka menangis kesakitan sambil terus membalas pukulan lawannya. Emosi yang memuncak mengalahkan rasa sakit itu. Sungguh menyedihkan, mengerikan. Sebelia mereka, sudah menjalani realitas seekstrem ini.

Seketika petir meledak lagi. Sangat mengejutkan. Hujan berhenti, awan hitam sirna, dan sinar matahari senja memancar cerah. Para remaja tak sadar keanehan itu. Tak peduli, dan belum kehabisan stamina, mereka teruskan berkelahi.

Fenomena mengagumkan terjadi. Di atas lahan kosong itu, tepat di atas para remaja yang sedang berkelahi dengan panasnya, keindahan muncul.

Lengkungan warna-warni, hasil dari pembiasan cahaya matahari oleh butir-butir air hujan, menjalar perlahan dari ujung lahan kosong ke ujung lainnya, segera menyelimuti dan membentuk kanopi yang sangat indah. Pemandangan padatnya bangunan perkotaan sirna, tertutupi pesona sang pelangi.

Perkelahian terhenti. Para remaja tercengang. Ada apa ini, mereka bertanya-tanya. Ada yang terpesona karena keindahannya, ada juga yang ketakutan merasa tak bisa pulang. Tapi mereka semua kebingungan, apa yang sedang terjadi.

Ternyata perkelahian tak sepenuhnya berhenti. Karena kebingungan, para remaja yang masih diliputi emosi tak mampu menemukan solusi, pukul-pukulan pun terjadi lagi.

Betapa luar biasanya, fenomena sang pelangi juga belum selesai menampakkan kejutannya. Lengkungan warna-warni tak hanya menghiasi ruang langit. Dengan cepat, goresan warna mejikuhibiniu membentang mewarnai seisi ruangan tersisa hingga permukaan tanah. Dan sekejap saja semua sirna, hanya ada para remaja yang masih tak bisa berhenti berkelahi meski sudah berada di dalam dunia pelangi.

Secara tak terduga, mereka semua tiba-tiba melayang. Tak bisa mengontrol diri karena sangat terkejut bisa terbang, pukul-pukulan pun terhenti. Mereka hanya bisa ketakutan dan meminta tolong.

Dan seketika mereka semua terjun. Terjun ke bawah yang pemandangannya hanya warna-warni pelangi di mana-mana. Mereka semua terus terjun bebas dan sangat deras ke bawah yang tak ada ujungnya. Teriakan ketakutan mereka yang semakin histeris menyakitkan telinga.

Ketika melintasi lengkungan pelangi, tubuh mereka yang terjun bebas tak terkontrol langsung terpental jauh, semakin memicu adrenalin yang terus memacu detak jantung mereka, melebihi saat perkelahian tadi.

Lengkungan muncul bertubi-tubi, berbentuk cembung maupun cekung, yang melemparkan para remaja itu ke segala arah. Teriakan histeris masih ada di antara mereka, ada juga yang mulai lelah dan pasrah.

Meskipun terpental ke sana kemari, posisi mereka semua masih saling berdekatan. Tapi karena masih ada rasa permusuhan, mereka masih enggan saling bergandeng tangan. Mereka tetap saja keras kepala untuk bisa mengontrol diri mereka sendiri.

Keindahan lengkungan pelangi datang silih berganti, benar-benar tak mau berhenti meluncurkan para remaja, yang.. Ah, apakah ini semacam hukuman untuk mereka yang terus saja berkelahi?

Dan ternyata, ada seorang remaja di antara mereka yang terus terjun bebas, mulai memegang tangan dia yang tadi dipukulinya. Sungguh, mulai muncul dorongan hati untuk bersahabat melebihi rasa kebencian sebelumnya.

Rasa benci dan permusuhan pun luluh. Dia yang tangannya digenggam sadar, bahwa harus menghadapi tantangan ini dengan bergandengan tangan. Percuma saja berteriak dan terus meminta tolong di kondisi yang mustahil ini, di mana mereka pun tak paham sedang berada di mana, juga tak ada gunanya terus tersulut amarah dan rasa benci. Mungkin saja dengan bergandengan tangan kondisinya akan menjadi lebih baik, begitu pikirnya.

Dia segera berteriak pada semua yang masih berteriak maupun yang sudah lelah berteriak, menyerukan untuk tenang. Setelah itu, dengan teriakan lantang agar mampu didengarkan dia menyeru pada semuanya, semuanya, tak ada kawan maupun lawan, untuk mulai berpegangan tangan.

Sempat terjadi kebingungan. Rasa benci masih ada di dalam hati mereka. Seruan itu tak mendapatkan tanggapan.

Dan lengkungan pelangi yang gemerlap berwarna-warni begitu indahnya masih melontarkan para remaja yang masih belum mau berbaikan. Lucu sekali mereka. Ada yang masih berteriak ketakutan kekanak-kanakan, ada yang sudah lelah tak berdaya, dan ada juga yang berpikir untuk memilih antara terus saja membenci atau mulai berdamai.

Ajakan untuk bergandengan tangan mulai menunjukkan respons. Berawal dari seruan tadi, sekarang ada yang mau memegang tangan sebelahnya.

Seruan untuk meneruskan bergandengan semakin lantang. Dengan ajakan yang bersemangat dan uluran tangan yang terbuka untuk saling berpegangan, rasa kebersamaan mulai menular dan mempengaruhi mereka. Suka cita muncul. Tangan-tangan mulai bergandengan. Ada yang menolak karena masih merasa gengsi, tetapi ajakan yang akrab dengan raut wajah yang cerah melunturkan gejolak emosi sesaatnya.

Dan sekarang semua kompak bergandengan tangan. Mereka semua melayang-layang senang, karena ternyata bisa terbang dengan stabil dan menyenangkan, dan juga tidak menyeramkan sama sekali seperti sebelumnya yang membuat mereka berteriak ketakutan.

Lontaran dari lengkungan pelangi yang curam sempat memisahkan gandengan tangan mereka. Tapi, para remaja sudah menyadari bahwa bergandengan tangan adalah satu-satunya cara untuk mereka tetap stabil bersama-sama. Mereka mencoba berpegangan tangan lagi. Kali ini mereka saling menggenggam erat tangan sahabatnya.

Eratnya kebersamaan mereka menunjukkan sudah tak ada lagi kawan dan lawan. Semua adalah kawan.

Kebersamaan dan keceriaan membuat mereka melayang dan meluncur di atas lengkungan indah sang pelangi yang bagaikan kawanan burung yang terbang harmonis.

Mereka semua sangat menikmati serunya meluncur bersama-sama. Mereka semua seperti sedang asyik sekali bermain seluncur di atas permadani pelangi. Suasana yang berseri-seri karena tawa bahagia menjadi semakin sempurna saat diiringi pesona kilauan cahaya berwarna-warni. Sungguh, seperti pertunjukan opera saat para penari meluncur dan menebarkan suka cita.

Mereka semua meluncur semakin kencang, dan diikuti tawa yang semakin riang…

Sekejap kedipan mata, keindahan sang pelangi sirna.

Para remaja yang semula terbang melayang, satu per satu mendarat, seperti sehabis melompat, di atas lahan kosong tempat semula.

Semua terheran-heran, dan semua tertawa bahagia. Tak ada lagi pukul-pukulan. Sekarang semua saling berangkulan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *