15 Jun

Berlari

Sore yang segar ini aku berlari kelilingi GSP UGM. Di sini salah satu tempat favoritku berlari. Udara sejuk dan rindangnya pepohonan, yang jadi alasan kenapa aku suka berlari di sini, kuharap bisa mendinginkan hatiku yang panas saat ini.

Jogging kali ini pikiranku penat. Tak kuperhatikan banyaknya orang, entah mahasiswa atau bukan, yang juga sedang marak berlari sore ini. Aku hanya ingin merenung, menenangkan diri, dan terus berlari.

Ini sudah putaran ke sembilan aku berlari di atas jalanan paving kelilingi GSP. Sudah setengah jam lebih kakiku berayun mengikuti ritme yang stabil. Aku memang sudah terbiasa berlari, itu kenapa sudah sejauh ini staminaku masih cukup terjaga. Tetap stabil. Itu prinsipku dalam berlari.

Tapi.. kali ini kurasakan kondisiku mulai goyah. Pasti karena beban hati dan pikiran ini. Ah! Kenapa bisa seemosi ini!

Tapi masih kuteruskan berlari.

Gawat! Pandanganku mulai linglung. Staminaku turun drastis. Serasa lelah sekali. Uh! Tak pernah seperti ini.

Harus kukurangi dulu lajuku. Aku perlu berjalan untuk stabilkan keadaan.

Ya Tuhan.. kenapa ini.. kakiku tak bisa berhenti berlari. Sekejap kupejamkan mata menahan siksaan ini. Sakit sekali. Lengkap sudah! Hati, pikiran, dan tubuh.. sakit semua!

Tolong! Aku tak bisa berhenti berlari. Ah! Percuma saja! Teriakanku ini tersumbat dalam hati.

Baiklah, tetap tenang, Bagas… Kamu pasti bisa.

Tenang.. tenang.. tenang.. ayo buka matamu dulu. Tenang…

Ada apa ini? Setelah kubuka mataku perlahan.. asap putih bersih menghampiriku, segera melingkupiku. Tak kulihat lagi GSP. Tak juga kulihat orang-orang berlarian. Tapi aku masih terus berlari. Dan syukurlah, ketenanganku memusnahkan rasa sakit berlebihan tadi.

Tapi asap apa ini? Di mana aku?

Aku menoleh ke kanan dan kiri, juga ke belakang. Tak ada apa-apa, hanya asap putih bersih. Jantungku berdebar semakin kencang. Bukan karena lelah berlari tapi karena ketakutan.

Seperti kelakuan orang yang penasaran akan dirinya yang sedang sadar atau sedang di alam mimpi, kutampar pipi kananku. Auh! Sakit!

Oh! Ini nyata!

Dan aku masih terus berlari tak bisa berhenti.

Ya Tuhan! Ampuni hamba-Mu ini.. sedang di mana aku. Sungguh.. takut hamba yang hina dan kecil ini. Mohon ampun ya Sang Maha Pengasih.

Atau.. apakah letih berlari yang menyatu dengan kecemasan hati dan pikiran membuatku jadi berfantasi, masuk ke dunia antah-berantah?

Ada apa ini? Aku berubah!

Ya Tuhan.. Ya Tuhan.. aku kesakitan..

Perlahan kakiku yang berayun lincah mengecil, berubah! Aku tak lagi berlari, aku melayang, terbang!

Ah! Sakit sekali. Kulihat tubuhku, tanganku, dengan segera juga berubah. Mengecil. Semua tubuhku mengecil. Pakaianku musnah entah ke mana. Mulai muncul dengan pelan tapi pasti di dadaku bulu-bulu putih kecoklatan.

Tak bisa kutahan tanganku terbuka membentang. Juga seketika bulu-bulu yang lebih panjang bermunculan, berwarna kecoklatan dengan motif yang tak asing bagiku. Oh! Burung gereja! Aku jadi burung gereja!

Semakin aku yakin saat kuperhatikan mulutku yang telah berubah jadi paruh mungil burung gereja.

Ya Tuhan, mohon ampun.. apa salahku hingga aku berubah jadi burung gereja. Aku tak bisa menangis memohon ampunan ini. Tak juga aku bisa berhenti, kali ini bukan berlari, tapi terbang. Tak bisa kuhentikan kepakan tanganku yang telah berubah jadi sayap ini. Aku terus terbang, yang entah menuju ke mana.

Asap putih bersih, perlahan menipis tertiup sepoi angin, dan dia pergi meninggalkan aku yang sudah jadi burung gereja begini.

Oh Tuhan..

Ini benar-benar nyata! Setelah asap menghilang, aku sudah terbang di atas jalan Kaliurang. Aku masih di Jogja, bukan di dunia antah-berantah. Aku hanya beralih ratusan meter ke utara dari tempatku semula, bukannya menghilang dan muncul di dunia baru.

Kurasakan ada yang aneh dengan sayap kananku. Perlahan kepakannya semakin pelan. Pelan dan melemah hingga jatuh ke bawah.

Aduh! Kenapa ini?

Sayap kiriku masih mengepak, dan kini dia semakin terbebani menerbangkan seluruh tubuh sendiri.

Bagian kanan tubuhku mulai tak mampu menahan tarikan gravitasi. Tubuh kecilku yang berbulu ini mulai terjun. Tentu saja tak kubiarkan, sayap kiriku masih mengepak bersusah payah.

Masih tak mampu. Berat sekali tubuh kecil ini!

Bahaya, aku terbang sempoyongan dan pasti akan jatuh di jalanan gang dekat jalan Kaliurang ini. Bisa mati aku.

Sekejap saja aku berpikir tentang mati, di bawahku di pinggir jalanan gang yang sepi seekor kucing jalanan berbulu kuning kusam menatapku tajam siap menerkamku untuk dijadikan makan malamnya. Parahnya, tubuhku akan terjatuh tepat di hadapannya. Kucing itu dengan senyum liciknya seolah menyiapkan meja makannya, duduk tenang menanti hidangannya.

Tak bisa kubiarkan. Ayolah sayap kanan! Mulailah bergerak mulailah mengepak!

Uh.. berat sekali mengangkatmu, mengepakkanmu.

Baiklah.. kucoba tenang. Jangan panik meskipun bahaya sudah sekitar dua meter di bawahku.

Pelan, perlahan, mulai kuangkat sayap kananku. Ya, sepertinya ada harapan. Sayap kananku mulai terangkat walaupun masih lemah.

Aku harus cepat tetapi jangan gegabah. Kukurangi kepakan sayap kiriku yang terburu-buru. Kucoba seimbangkan kedua sayap.

Bagus.. pertanda bagus! Aku mulai bisa mengontrol tubuhku, tak sampai terjun bebas lagi, meskipun masih lemah kurasa. Kalau tak segera kukepakkan kedua sayapku yang sudah terbuka lebar ini, tubuhku tetap saja akan jatuh.

Ayo kepakkan! Ayo terbang! Terbang!

Yeah.. aku mulai terbang!

Tapi kucing kelaparan itu tak tinggal diam. Dia melompat, dan percobaan pertamanya hampir berhasil menangkapku. Jarak kita sebagai pemangsa dan mangsa memang sudah sangat dekat. Kalau tak kukepakkan sayapku lebih kuat dan terbang lebih tinggi, aku bisa diterkam si kucing liar pada lompatan-lompatan berikutnya.

Ayo! Kamu harus kuat, kedua sayapku! Kepakkan lebih kuat, terbang lebih tinggi!

Wohooo.. berhasil, aku bisa!

Tetap saja si kucing tak menyerah karena dorongan rasa laparnya. Dia terus mengejarku. Aku pun tak boleh menyerah, aku harus terbang lebih tinggi. Si kucing masih melihat kemungkinan karena terbangku yang meskipun lebih tinggi tapi masih terlihat lemah. Dengan cekatannya, dia memanjat pagar lalu tembok demi tembok rumah-rumah yang berjajar, terus mencoba mendekat dan meraihku. Mengerikan sekali kulihat matanya yang tetap menatap tajam dengan tetap gesitnya mengejarku. Entah kenapa sayapku belum bisa menerbangkan tubuh mungil ini cukup tinggi dan segera meninggalkan kucing kelaparan itu.

Baiklah! Aku harus percaya pada kedua sayapku. Percaya keduanya kuat dan bisa terbang lebih tinggi lagi.

Ayo, sayap-sayapku! Aku percaya kalian bisa!

Yeah! Yeah!

Kepercayaanku terbukti. Kedua sayap semakin mengepak mantap.

Wohooo.. kutatap ke bawah.. ya, benar saja aku terbang lebih tinggi. Selamat tinggal kucing liar kelaparan. Maaf, aku bukan makananmu.

Tenang rasanya selamat dari maut..

O’o… asap putih yang tadi mengubahku jadi burung gereja begini kenapa muncul lagi!

Apa-apaan ini? Firasatku buruk.

Aarrghh!! Asap putih menyedotku tanpa bisa kulawan, menarikku ke dalam kehampaan serba putih.

Keanehan kurasakan lagi. Sayap-sayapku nyeri, tiba-tiba melebar membesar dan tak lagi kecoklatan. Seketika warnanya pucat memudar menjadi putih bersih.

Apa lagi ini? Badanku membengkak yang juga diikuti bulu kecoklatan yang luntur, kepalaku pusing seperti mau pecah, dan mulutku semakin monyong saja. Aduh.. ampuni hamba Tuhan, hamba tersiksa.

Hah.. hah.. hah.. napasku terengah-engah. Dan aku sadar aku sudah berubah jadi burung yang baru, burung merpati putih.

Wah, betapa senangnya aku. Bulu-buluku cantik putih bersih. Terbangnya kedua sayapku pun kini anggun menawan. Ternyata meskipun aku lelaki, aku juga suka keindahan dan keanggunan ini.

Aku mulai berpikir.. Asap putih ini merubahku lagi setelah aku mengatasi rintangan sebagai burung gereja, dan aku kini menjadi burung merpati. Mungkin saja ini seperti kenaikan tingkatan setelah aku bisa melewati rintangan sebelumnya. Tapi entahlah.

Seketika pikiranku melayang, dan asap putih yang tak lagi kubenci itu juga perlahan menghilang tertiup angin. Dan aku sudah terbang di ketinggian, lebih tinggi lagi dari terbangnya burung gereja tadi.

Kutatap ke bawah. Wah, aku masih di Jogja. Aku masih di jalur jalan Kaliurang, dan terbangku membawaku menuju ke utara. Anehnya aku tak bisa mengubah arah sesuai kehendakku. Tapi toh keanehan sudah terjadi sejak aku jadi burung tadi.

Hah! Pasrah saja lah..

Wah.. wah.. apa lagi ini?

Kepulan debu hitam seakan sedang bergulat saling beradu di hadapanku. Baru kali ini kulihat polusi udara seganas ini. Dan, ya ampun.. aku tak bisa mengubah arah. Aku terus terbang hendak menerjang badai debu itu.

Sudahlah, hadapi saja..

Aku masuk kepulan debu hitam. Benar saja, badai debu mengamuk di dalam kepekatan hitam yang menutupi cerahnya langit. Aku tak bisa melihat apa-apa, gelap di mana-mana.

Celaka, guncangan badai debu ini membuatku terombang-ambing. Dan kedua sayapku mulai bermasalah lagi. Aduh! Kenapa kepakan kedua sayapku jadi tidak kompak begini. Saat yang satu mengepak naik yang satunya turun. Hey, sayap! Ayolah! Jangan kau buat masalah. Saat ini sedang genting kau malah berulah.

Tubuh berbuluku yang putih bersih terkotori gempuran debu hitam. Sudah tak lagi merpati putih. Benar-benar aku bisa mati terjebak jerat amukan debu hitam ini kalau aku terus terombang-ambing dan tak segera keluar dari sini.

Okey, saatnya tetap tenang lagi. Tenang.. tenang.. meskipun tamparan, pukulan, tonjokan debu-debu yang sebenarnya sangat kecil tapi saat berubah jadi badai debu begini sungguh sangat menyakitkan yang jelas saja menguji ketenangan. Tetap tenang…

Ayo, sayap.. kenapa kalian berdua tak harmonis. Ayo, saatnya kompak!

Tak akan bisa terbang sempurna kalau kepakan kalian berdua naik turun tak seirama.

Ayo, ayo.. segera atasi penderitaan di dalam pekat badai debu ini. Jadilah kalian saling mengerti, saling memahami.

Baiklah, kuhentikan dulu kepakan kedua sayapku yang naik turun tak beraturan. Berhenti.. tenang.. aku tak peduli hempasan badai debu yang menerjang seluruh tubuhku. Tenang…

Kedua sayap kubiarkan tenang, dan mulai lemas turun ke bawah.

Ya, akan kutunggu saat yang tepat, dan akan kutarik ke atas kedua sayapku untuk mengepak seirama.

Tunggu, saat ini tetap tenang.

Ya!

Sekarang saatnya.

Ayo kedua sayapku! Berkepaklah seirama.. angkat dan buka lebar sayapmu.. kebaskan debu-debu hitam yang mengotori bulu putihmu.. seirama.. seirama!

Yeah!!! Sumringahnya aku! Kau bisa kedua sayapku! Yeah.. mulai seirama. Bagus.. bagus.. aku mulai bisa terbang dengan stabil. Bagus! Ayo, tembus gelapnya badai debu yang terus saja memukul menggebu-gebu. Kepakkan lebih kuat. Ayo!

Ah! Ada harapan di depan. Kegelapan debu mulai memudar, aku bisa melihat langit cerah yang tampak samar-samar. Ayo teruskan, badai akan berlalu, langit cerah menanti di hadapan.

Yea.. ha.. ha.. ha… Bahagianya aku! Aku berhasil lalui ganasnya badai debu.

Cerah sekali langit senja yang merona jingga ini, semakin mempercerah kebahagiaanku. Segera kukebaskan debu-debu hitam yang menempel mengotori sekujur tubuh berbuluku yang putih.

Ah, aku kembali bersih dan menawan.

Wohooo… kedua sayapku yang telah terbang seirama meluncur menembus kawanan awan. Menyenangkan sekali. Sangat seru! Wohoo.. hoo.. hooo…

O’o.. o’o.. o’o… kawanan awan yang kutembus mengantarkanku memasuki asap putih misterius lagi, dan aku sudah berada dalam kehampaan serba putih lagi. Hahaha, menggelikan sekali. Tapi kali ini aku sudah tak takut ataupun benci pada asap putih bersih ini. Aku malahan penasaran, berubah jadi apa lagi aku, berpetualang ke mana lagi aku. Hahaha.. Eits, tetap waspada, jangan gegabah.

Arrgghhh.. sakit! Kesakitan yang sama aku alami. Tenang, Bagas.. ikuti saja, dan lihat kau akan berubah jadi apa.

Arrrggghhhh… sakit sekali! Drastis sekali! Tak kurasakan perubahan perlahan seperti sebelum-sebelumnya. Sungguh, seluruh tubuh bergejolak. Tak ada kesempatan kuamati perubahan.

“Arrgghh.. arrgghhh…” Pekikanku menggetarkan ruang langit. Dan terbangku meluncur deras sekali. Luar biasa, aku jadi burung elang!

“Arrgghhh…!!!” Luar biasa. Gagah perkasa sekali terbangku saat ini. Begini rasanya terbang di puncak tertinggi.

Dan wah.. betapa luar biasanya, Gunung Merapi ada di hadapanku! Ya, aku tahu sekarang.. itu kenapa sejak dari GSP UGM aku terus terbang ke utara di atas jalan Kaliurang, dan di sinilah aku sekarang, berhadapan dengan Gunung Merapi yang gagah berdiri yang dulu pernah kudaki.

Luar biasa.. luar biasa..

Dan, sudah kuduga. Pasti muncul tantangan lagi.

Aku semakin sadar, aku diubah jadi burung yang lebih hebat begini untuk diuji menghadapi tantangan yang lebih besar lagi.

Okey, aku siap! Datanglah penghalang, aku siap!

Awan keabu-abuan, tak sehitam pekat badai debu yang sudah kulalui tadi, kini sudah menanti di hadapanku. Entah itu apa dan apa yang akan terjadi. Akan kuhadapi. Toh, aku tak bisa berhenti, tak juga bisa mengubah arah. Elang bertatapan tajam ini tak takut! “Arrghhh!!!”

“Hahaha!!!” Awan kelabu itu hidup. Astaga, tawanya menggelegar membelah langit.

Tak kulihat raut wajah raksasa abstrak berwarna abu-abu itu. Dia hanya gerombolan awan kelabu dengan kawanan petir menyambar-nyambar di dalamnya. Cukup mengerikan penampakannya, apalagi ditambah suara menggelegarnya.

“Kau kira kau kah penguasa langit, hah? Aku lah penguasa langit! Enyah saja kau elang penakut.” Sombong sekali awan raksasa ini. Nyaliku tak ciut sedikit pun!

“Aku tak takut sedikit pun! Baiklah, kau halangi aku.. terima lah ini!” Aku terbang semakin deras, kuluncurkan paruh dan sayap-sayap tajamku tepat ke pusat sasaran. Kuharap tepat kutusuk jantungnya.

Yeah, tepat sasaran. Berhasil kutembus inti jantungnya. Kena kau, rasakan itu!

“Hahaha.. begitu saja kemampuanmu? Kau tak pantas jadi raja langit!” Lubang pada pusat awan kelabu itu tiba-tiba tertutup lagi. Ah, salah dugaanku.

Gawat, dia mulai mengejarku yang terus meluncur maju. Gunung Merapi yang gagah berdiri menatap pertarungan kami, elang yang pantang takut dan awan kelabu yang pongah.

“Lari ke mana kau? Hahaha!”

“Aku tak takut!” Memang aku tak bisa berhenti atau mengubah arah, dan memang terus maju begini saja. Malas kujelaskan hal itu padanya. Kesombongannya akan menuduh itu hanya alasanku saja.

Aku harus berpikir, bagaimana mengatasi monster awan menyebalkan ini. Ah.. ah..! Kedua sayapku bermasalah lagi. Kenapa lagi ini? Ayolah!

Sayap kanan bersikeras menarik ke arah kanan, juga sayap kiri tak mau kalah menarik ke arah sebaliknya. Hey, kalian berdua! Ayolah.. aku hanya punya satu tubuh, tak bisa turuti kemauan kalian yang berlawanan.

Jadilah aku terbang sempoyongan lagi.

Tak bisa meluncur tajam, awan raksasa yang mulai tampak mengerikan itu semakin mendekat. Seketika muncul gumpalan kelabu memanjang membentuk tangan dengan bogem raksasanya.

Dia berayun, dan.. ah, tepat sasaran. Aku terpental jauh. Argh, sakit sekali! Sakit sekali tonjokkan bogem mentah awan raksasa itu.

“Hahaha.. rasakan tinjuku! Kau pun terbang ketakutan seperti itu.” Omong besarnya tetap tak membuatku gentar, meskipun terbangku masih kacau.

Ya Tuhan.. Ayo diri! Tenanglah lagi, berpikir dan fokus lagi.

Awan raksasa yang kasar itu tak berbelas kasihan sedikitpun melihat burung yang tak sebanding dengannya telah sesempoyongan ini. Kepalan bogem lainnya muncul cekatan. Ahh! Tepat sekali lagi, dan melemparkanku jauh. Terhuyung-huyung sudah sekujur tubuhku. Tak ada darah muncrat, tapi sungguh tak pernah kurasakan kesakitan sesakit ini. Lemas seluruh tubuh berbulu yang gagah ini. Kedua sayapku lemas kelelahan kesakitan. Angin kencang di ketinggian saja yang tetap membuatku melayang.

Sudah jera kau saat ini, kedua sayapku? Tak lagi kau berdebat berlawanan arah? Ya, kelelahan dan kesakitan saat ini kau rasakan. Tapi, ayo.. ini saatnya bangkit. Saatnya mengepak kompak, meluncur tajam lagi, menghadapi awan raksasa itu. Pasti, kita akan temukan celah kesombongannya.

Ayo, kedua sayapku!

Ah.. ya.. kurasakan kedua sayapku mulai bersemangat. Wah, kegagahan ditampakkannya lagi dengan membentangkan kedua sayap yang berbulu lebat itu. Bagus! Bagus! Kalian siap!

“Lihat, elang yang tak ada kapoknya ini. Akan segera kuhabisi kau!” Aku menatap tajam raksasa itu. Bukan menatap memperhatikan bualan kosongnya, aku menatap fokus mencari cara, celah kesombongannya.

“Ayo, hadapi aku!” Aku yang kini sudah berhadapan dengannya langsung meluncur tajam menghadapinya.

Wah, aku mulai bisa mengontrol terbangku. Sekarang tubuh dan sayapku tak hanya kaku terus maju.

Luar biasa! Aku bisa terbang bermanuver sekarang. Dan ini akan mempermudah aku menghadapi awan raksasa itu.

Ya, aku langsung mendapatkan ide. Dengan kemampuanku bermanuver tinggi, aku akan menjebaknya dengan terbang ke segala arah. Dugaanku, tubuh raksasanya akan melilit dirinya sendiri, petir-petir di dalam tubuhnya akan saling menyambar.

Wohooo… “Argghhh…!!!”

Aku tepat di hadapannya, dan langsung kuubah arah dengan gesit. Bagus! Dia merespon, dia juga mulai bergerak cekatan. Mengerikan sekali raksasa ini, dengan tubuh besarnya dia tetap bisa bergerak lincah.

“Lari ke mana kau! Akan kutangkap kau.” Tetaplah sombong sembari aku terus fokus berpikir.

Aku semakin bersemangat, manuver terbangku juga semakin mantap. Kecepatan lajuku sangat kencang, meliuk-liuk ke segala arah mengelilingi tubuh raksasa angkuh ini. Tak kupikirkan ke mana saja arahnya, dan kulihat dia mulai bingung dan marah tak bisa menangkapku.

Bagus! Aku mulai melihat reaksinya. Tubuh raksasa yang terus bergerak tak beraturan karena mengejarku membuat petir-petir di dalamnya saling menyambar hebat. Rasakan itu, Raksasa sombong!

“Argh! Kurang ajar, kau! Kau menjebakku, membuat tubuh perkasaku disambar petirku sendiri. Arggghhh!”

Berhasil! Semoga saja rintangan ini bisa segera teratasi.

“Jgaarrr! Jlgaarrr! Jlgaaarrr!”

Ugh! Mengerikan sekali ledakannya..

Yeah! Wohooo..

Berhasil!

Petir-petir yang saling menyambar menggelegar perlahan menghilang. Awan raksasa kelabu itu pun memudar warnanya, dia menjadi lebih cerah.

“Arrgghhh!” pekikanku yang melengking menggantikan gelegar petir yang sudah musnah.

“Jangan senang dulu kau, Elang sialan!” Astaga, dia masih hidup. Meskipun sudah menjadi awan yang lebih cerah dan sekarang tanpa petir-petir mengerikannya, dia masih bisa bertahan. Astaga!

Tetap fokus! Okey, setidaknya kekuatannya pasti berkurang drastis.

“hebat sekali kau, Raksasa awan yang perkasa. Walaupun sudah meledak tapi kau masih bisa hidup.” Aku mencoba memujinya untuk membuatnya lengah.

“Ah! Cukup! Tak akan kuampuni kau sekarang!” Dengan penuh amarah, dia segera bergerak mengejarku dengan kekuatannya yang tersisa. Entah kenapa, aku mulai merasakan kengerian ancamannya yang tak ada habisnya. Gawat, sekarang apa lagi caranya!

Kali ini aku baru merasakan takut. Aku meluncur deras menghindar. Okey! Harus tetap mencari cara. Baguslah, kedua sayapku tak lagi bermasalah dan bersama terbang dengan lincah.

“Jangan kabur kau! Aku tahu kau ketakutan. Sekarang tamatlah kau!”

Dengan segera kepalan bogemnya muncul lagi. Dugaanku salah, ternyata kekuatannya tak berkurang sedikit pun. Bahkan, dengan amarahnya itu kekuatannya menjadi lebih besar. Ya Tuhan…

Kepalan itu mulai berayun. Ah! Untung saja aku masih bisa lincah menghindar.

Dan raksasa ini semakin ganas. Tinjunya datang bergantian. Aduh! Selincah apapun aku menghindar, tetap saja akan buatku sempoyongan dan pasti akan segera terpukul dan terlempar.

Aku tak bisa terus di ketinggian. Ah! Aku melihat ada pepohonan yang cukup lebat di lembah kaki Gunung Merapi. Aku ada ide!

Aku akan memancing raksasa penuh amarah itu turun ke bawah. Semoga saja pepohonan itu bisa melindungiku.

“Mau ke mana kau? Kau tak akan bisa lolos!”

Yeah! Amarahnya membuat raksasa itu terpancing untuk terus mengikutiku terjun ke bawah. Tepat di bawahku sudah membentang pepohonan. Dengan ambisinya menghajarku, aku yakin raksasa itu tak memperhatikan pepohonan yang bisa saja melumpuhkannya. Kuharap begitu.

“Arrggghhh…!!!” Ya Tuhan, teriakan raksasa itu sungguh membuatku ketakutan, sungguh membuatku hilang harapan. Gelegar teriakannya seperti akan mengeluarkan seluruh kekuatannya melalui bogem besarnya, dan dengan seluruh tubuh raksasanya terjun hendak melindas tubuh kecilku yang tak sebanding dengannya.

Sekuat tenaga aku meluncur segera menembus lebatnya pepohonan. Entah, aku tak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Aku pasrah. Mengerikan sekali. Mungkin ini akhir hidupku. Ampuni seluruh dosaku, Tuhan. Hamba berserah pada-Mu.

Sekejap. Sangat cepat. Teriakan menggelegar raksasa itu menembus pepohonan. Hempasan angin mengoyak rapatnya dedaunan dan ranting-ranting. Aku terombang-ambing badai awan di dalam kelebatan pepohonan. Sakit sekali, sekujur tubuhku meluncur menabrak kayu-kayu yang sangat keras. Aku tak bisa membuka mata.

Ya Tuhan.. Ya Tuhan.. lindungi hamba..

Hamba belum menjadi hamba-Mu yang baik, mohon berilah hamba kesempatan untuk memperbaikinya, untuk berusaha sepenuh hati mencintai-Mu. Ya Tuhan..

Seketika aku tersangkut ranting-ranting yang porak-poranda karena badai awan raksasa.

Tak kudengar lagi gemuruh yang menyeramkan itu. Perlahan mulai kubuka mata. Dari pandanganku yang rabun bisa kulihat langit jingga yang sangat cerah. Bahagia sekali aku melihat langit seindah itu. Segera kuperjelas pengelihatan tajamku.

Terima kasih, Tuhan.. awan raksasa mengerikan itu sudah sirna. Terima kasih, Tuhan.

Aku tak tahu apa yang terjadi. Mungkin saja, saat aku berlindung di dalam pepohonan ini, tubuh awan raksasa penuh amarah itu tercerai berai oleh rapatnya ranting-ranting dan dedaunan.

Tak terpikirkan sebelumnya olehku. Tapi sungguh, aku yakin Tuhan akan memberi perlindungan-Nya setelah aku berusaha sekuat tenaga dan sudah tak berdaya.

Terima kasih, Tuhan..

Mulai kukumpulkan segenap semangatku, mulai bangkit. Kuhempaskan tubuh berbulu dan kedua sayapku yang kokoh. Dan beranjak terbang.

Terima kasih untuk kalian kawanan pepohonan yang telah melindungiku. Maafkan telah membuat kalian porak-poranda. Semoga kalian kembali hijau berseri seperti sebelumnya.

Pandangan tajamku kini menatap ke depan. Siap melanjutkan petualangan. Entah, ada apa lagi menanti di depan.

Aku terbang meluncur maju menuju Gunung Merapi.

Luar biasa gagahnya sang Merapi kutatap dari ketinggian. Sungguh membuatku bersemangat! Bersemangat untuk terus melanjutkan hidup yang bagaikan pendakian menuju tujuan tertinggi. Berbagai rintangan akan silih berganti datang. Tapi pandangan akan tetap teguh tertuju pada tujuan tertinggi. Ya Tuhan, hamba yakin Engkau selalu melindungi.

Ah! Sudah kuduga..

Awan putih yang akan mengubahku datang lagi.

Aku siap!

Tapi kali ini begitu hening, begitu tenang. Tak ada lagi rasa takut dan ragu. Hempasan awan putih begitu lembut menerpaku, dan aku masuk ke dalam ketenangan. Putih. Hampa.

Mulai kurasakan kakiku berlari. Kulihat ke bawah. Ya.. kulihat kakiku berlari. Ya Tuhan, aku kembali. Sungguh senang sekali. Sungguh petualangan yang luar biasa.

Benar-benar tak kusangka, apa yang terjadi sebelumnya. Benar-benar aku tak mengerti, semua yang baru saja terjadi itu nyata atau mimpi. Entahlah…

Hati dan pikiranku sungguh tenang. Kulihat lagi pepohonan, orang-orang berlarian, dan gedung GSP UGM. Aku sudah kembali.

Kukurangi lajuku berlari. Mulai berjalan, mendinginkan tubuhku yang penuh keringat.

Aku mulai berpikir, pasti ada suatu makna dari apa yang baru saja kualami.

Kutarik nafas dalam-dalam, kutatap langit sore yang mulai gelap, kupejamkan mata, dan masih terus berjalan.

Aku sadar, seketika kubuka mata.

Aku menjadi sangat tenang sekarang. Padahal sebelum menjelajahi dunia imajinasi itu, aku merasa sangat kacau setelah bertengkar dengan istriku.

Kenapa aku bisa tenang, aku yakin karena apa yang baru saja kualami. Aku mendapatkan pencerahan dari petualangan menjadi burung gereja, merpati putih, dan elang. Setiap masalah yang kuhadapi saat menjadi burung sangat terkait dengan masalahku saat ini. Aku mendapatkan makna yang sangat berharga, bagaimana sayap-sayapku saat terbang begitu bermasalah, tidak mengepak kompak, sehingga aku menghadapi masalah dengan susah payah. Dan saat kedua sayapku terbang harmonis, setiap tantangan yang datang bisa terselesaikan dengan baik.

Aku mencoba merefleksikan makna itu pada kehidupanku dengan istriku. Aku sadar kehidupan kita berdua sedang tidak harmonis. Aku dengan egoku, dan istriku dengan egonya. Perbedaan pandangan menjadikan tindakan kita tidak saling padu. Perselisihan dan pertengkaran dampaknya. Jelas saja membuatku kacau.

Hal istimewa yang kupelajari dari sepasang sayap tadi adalah, jelas saja bahwa sayap kanan dan kiri itu berbeda. Sayap kanan tak bisa diubah jadi sayap kiri, begitu juga sebaliknya. Tapi, mereka berdua tak mempersoalkan perbedaan itu. Keduanya kompak mengepakkan sayapnya bersama, seirama, harmonis, menuju tujuan yang sama.

Baiklah.. saatnya segera pulang untuk menemui istriku tercinta. Aku akan tulus minta maaf padanya, dan kita akan bermusyawarah untuk menjadi sepasang kekasih yang harmonis dan bersatu dalam tujuan hidup kita bersama.

Akan aku ceritakan serunya petualanganku menjadi burung tadi, hahaha…

Terima kasih, Tuhan. Beribu syukurku tak akan cukup atas perlindungan dan bimbingan-Mu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *