15 May

Pengemis, Perempuan, dan Pendidikan

Seorang gadis desa biasa. Dengan wajah tertunduk lesu, dia duduk termenung di halte menunggu bus yang akan mengantarkannya ke sekolah pagi ini. Dan seketika itu juga datang seorang nenek pengemis menghampiri gadis yang duduk sendirian itu, mengulurkan tangannya dan berharap rasa iba.

Si gadis hanya diam. Berharap nenek pengemis segera pergi meninggalkan dia yang sedang sibuk dalam kesedihannya.

“Izinkan mbah menemani kesedihanmu, ya Nduk?” Uluran tangan meminta-minta berubah menjadi belaian kasih sayang pada bahu si gadis. Jelas saja si gadis menatap curiga nenek itu, dan segera duduk agak menjauh.

Nenek pengemis itu menghampiri dan langsung duduk di samping gadis yang baru pertama kali ditemuinya. “Ika, nama yang indah, Nduk. Kalau mbah, panggil saja mbah Mi.” Setelah membaca nama di seragam sekolah gadis itu, mbah Mi memperkenalkan diri. Sedangkan Ika semakin bingung saja dengan sikap sok bersahabat seorang nenek pengemis yang asing baginya. Dia tetap diam, tak berani menatap mbah Mi.

“Tenang, Nduk. Mbah nggak akan macam-macam. Melihatmu sedih begini, mbah jadi ingat sesuatu yang sangat menyentuh hati mbah kemarin.”

Seolah mengerti mbah Mi hendak mencurahkan isi hati, Ika jadi semakin gelisah. Badannya menggeliat seolah tak nyaman dengan seragam putih-biru rapi yang dikenakannya. Tatapannya memandang jauh pada jalanan pagi yang lengang. Bus yang ditunggunya tak juga datang.

“Nduk, mbah mau cerita. Mungkin saja bisa menghiburmu, membuat Nduk jadi lebih bersemangat untuk pergi ke sekolah. Ini cerita nyata, Nduk. Mbah mengalaminya sendiri kemarin.” Mbah Mi yang awalnya berwajah lesu mengharapkan belas kasihan berubah menjadi sosok nenek yang penuh kasih saat berbicara dengan Ika, layaknya gadis itu cucu kesayangannya sendiri.

Ika tetap menunjukkan sikapnya yang tak suka diajak bicara. Dia mulai berdiri, berjalan ke ujung halte yang sepi itu. Kali ini mbah Mi tak mengikutinya.

Tak lama, bus datang juga. Ika buru-buru naik meninggalkan halte perenungannya dan seorang nenek pengemis yang mengganggunya meratapi kesedihannya.

Mbah Mi tak menyerah. Dengan langkah bersemangat, dia segera masuk ke dalam bus menyusul Ika. Dan bus berangkat.

Saat Ika telah duduk nyaman di barisan bangku depan, dia dikagetkan dengan munculnya mbah Mi yang tiba-tiba duduk di sebelahnya. Padahal bangku bus lainnya banyak yang masih kosong. “Maafkan mbah Mi yang ngeyel ini ya, Nduk. Tapi mbah harus menceritakan ini padamu. Karena dengan begini mbah bisa membalas budi. Dan juga mbah nggak rela melihatmu pergi dengan kesedihan.”

Ika tetap tak menunjukkan respeknya. Matanya menatap keluar jendela menikmati pemandangan sawah yang luas terhampar hijau segar. Dalam benaknya dia berkata: bagaimana bisa seorang pengemis tua yang selalu menunjukkan kesedihan hendak jadi penghibur untuk hatiku yang bersedih. Aku tak percaya, mbah ini hanya ingin memanfaatkan aku saja.

“Baiklah, mbah akan mulai bercerita. Kejadiannya kemarin siang. Siang yang sangat panas, Nduk. Seperti biasa, mbah pergi mengemis. Hari itu rezeki mbah lagi seret, banyak orang menolak berbagi rezekinya. Mbah sedih sekali.” Mbah Mi memulai ceritanya sambil sesekali mengamati wajah Ika yang masih datar tanpa ekspresi.

“Saat itu mbah mendatangi rumah yang terlihat hijau asri, mbah memohon dengan suara lemah pada tuan rumah yang sedang duduk di halaman rumahnya. Dengan senyuman ramah, tuan rumah itu, seorang ibu muda, mbah panggil dia ‘Non’, datang menyambut mbah. Langsung saja mbah terkesan. Tak pernah mbah yang rendah ini diperlakukan seperti itu.” Ika nampaknya mulai tertarik dengan cerita itu. Dia menoleh ke arah mbah Mi dengan tatapan dinginnya, sedangkan mbah Mi membalasnya dengan senyuman.

“Non tuan rumah itu mempersilahkan mbah masuk ke ruang tamunya. Aneh rasanya, padahal yang mbah harapkan cuman sejumlah kecil uang, nggak lebih. Tapi dia malah menjamu mbah seperti tamu. Dibuatkannya mbah es sirup segar yang manisnya semanis senyum ramah non tuan rumah itu.”

Kondektur bus datang menarik ongkos. Mbah Mi bergegas mengambil uang dari kantong kain tempatnya mengumpulkan uang selama mengemis, dan memberikannya pada kondektur bus. “Dua orang ya, Mas.” Ika langsung menatap tajam mbah Mi dengan tetap tak mau berkata. Begitu juga kondektur yang hanya menatap aneh nenek-nenek yang membayarkan sejumlah uang recehan, lalu dia pergi menuju penumpang lainnya.

“Sampai mana ya ceritanya mbah tadi? Oh iya, untung masih ingat.. Begini kata non tuan rumah itu pada mbah, “saya lihat mbah kepanasan, makanya saya ajak mbah istirahat sebentar, sambil menemani saya minum es sirup.” Benar-benar mbah tersentuh karena kebaikannya, Nduk.” Ika masih bersikap acuh tak acuh, tapi sebenarnya dia mendengarkan kisah mbah Mi yang menarik itu. Dan mbah Mi teruskan bercerita walau acuh tak acuh pendengarnya.

““Non peduli sekali sama si mbah. Terima kasih ya, Non.” Mbah Mi merasa terharu saat itu, Nduk.” Ekspresi mbah Mi saat bercerita pun menunjukkan bahwa dia menjiwai kisahnya. Hembusan angin semilir dari jendela kaca yang sedikit terbuka itu mengurai rambut panjang Ika yang tak diikat, menutup-nutupi wajahnya yang mulai menatap ke arah mbah Mi. Kini matanya memperhatikan sepenuhnya mbah Mi berkisah. Tapi dia masih tetap diam.

“Mbah kaget saat dia bilang begini, Nduk, “Saya jadi teringat almarhumah ibu saya saat saya melihat Mbah.” Lalu mbah bertanya ke non itu, “Kenapa, Non? Mbah ikut sedih untuk alharhumah ibu Non ya.” Dia langsung berkata lembut, “Ibu saya juga pengemis dulu, Mbah. Saya jadi ingat saat dulu hidup susah.” Mbah diam termenung, Nduk.” Saat mbah Mi berkisah seperti ini, Ika tertegun dengan matanya membelalak.

““Maaf, Mbah.. Bukan maksud saya menyinggung Mbah. Saya minta maaf sekali. Saya hanya ingin bercerita tentang ibu saya. Boleh, Mbah?” Begitu kata non itu. Sikap non yang sopan dan ramah itu membuat mbah terharu, jadi mbah persilahkan dia bercerita.”

“Siapa nama non tuan rumah itu, Mbah?” Ika bertanya. Ika benar-benar sudah larut dalam cerita mbah Mi. Dia sangat tertarik, dan tak ada lagi rasa curiga. Mbah Mi pun tersenyum melihat Ika yang mulai bicara, “Mbah lupa tanya, Nduk. Mungkin saking kagumnya mbah jadi lupa. Tapi mbah pasti akan ke sana lagi nanti.”

“Mbah lanjutkan lagi ceritanya ya..” Mbah Mi tersenyum. Ika mengangguk. “Mbah nggak bisa menirukan kata-kata non tuan rumah itu yang penuh perasaan tentang masa kecilnya bersama ibunya yang seorang pengemis. Begini ceritanya yang mbah ingat-ingat, Nduk..”

“Non itu berasal dari keluarga sederhana sebenarnya. Dia anak pertama dari tiga anak perempuan. Orang tuanya pedagang kecil di pasar. Musibah di keluarganya dimulai saat ayahnya meninggal dunia. Ibunya kecewa dengan takdir dan jadi putus asa. Non yang saat itu masih kelas 6 SD, dan adik-adiknya juga masih SD, terancam putus sekolah. Saat bercerita, non itu nangis, mbah juga ikut nangis. Dia bilang untuk makan saja susah apalagi sekolah.” Mbah Mi berlinang air mata. Hembusan angin perjalanan menjatuhkan air mata di pipi keriputnya. Ika pun terharu, dia menggenggam tangan mbah Mi yang telah basah digunakannya mengusap pipinya.

“Ibunya terpaksa jadi pengemis untuk menghidupi keluarga. Non itu nggak setuju dan melarang ibunya jadi peminta-minta. Tapi ibunya nggak peduli karena kondisi keluarganya semakin sulit. Ini yang mbah alami juga, Nduk. Mbah terpaksa mengemis karena mbah nggak punya apa-apa. Suami mbah sudah lama meninggal. Mbah juga kecewa dengan takdir.” Ika sudah jadi seperti cucu mbah Mi. Dia mendengarkan dengan penuh perhatian.

Bus yang melaju tak terlalu kencang sambil mencari penumpang itu mengiringi mbah Mi berkisah. Ika nampak nyaman saja menikmati perjalanannya, yang sepertinya masih jauh menuju ke sekolahnya.

“Tapi, Nduk! Non itu pantang menyerah. Dia tetap sekolah. Ibunya marah dan melarangnya. Disuruhnya dia mengemis juga, atau menjaga adik-adiknya saja di rumah. Tapi dia nggak habis akal. Setiap pagi setelah ibunya pergi mengemis dia minta tolong tetangganya untuk menjaga adik-adiknya dan untuk menjaga rahasia kalau dia pergi ke sekolah.” Mbah Mi berhenti sejenak. Menghela nafas dan nampak mengingat-ingat detail kisahnya. Ika tetap tenang dan sabar.

“Nggak hanya itu, Nduk. Non itu juga berjualan jajanan di sekolahnya. Dijualnya titipan dari pedagang pasar yang selalu dihampirinya setiap berangkat sekolah. Sedikit keuntungan dari jualan itu diberikan ke ibunya. Ibunya yang mengira non itu mendapatkan uang dari mengemis jadi senang karena anak pertamanya bisa membantu mencukupi kebutuhan keluarga. Dan sisa uangnya dia kumpulkan untuk keperluannya di sekolah. Setiap malam, saat ibunya tertidur lelah setelah seharian mengemis, non lanjutkan belajar. Setiap hari begitu terus perjuangan non. Bayangkan, Nduk. Anak kelas 6 SD.” Mbah Mi bersemangat sekali berbagi inspirasi. Ika pun dibuat takjub. Senyuman di wajahnya seakan hidup.

Mbah Mi membelai rambut panjang Ika. Dan Ika tak hanya merasakan belaian kasih sayang, tapi juga serasa diingatkan dan dimotivasi dari kisah yang dituturkan mbah Mi untuk tak mudah menyerah dalam kesedihan dan tetap bersemangat mengeyam pendidikan.

“Harapan mulai muncul, Nduk. Saat non itu lulus SD dengan nilai tertinggi, ibunya diundang ke sekolah. Betapa bangga ibu non saat itu. Dia peluk erat anak kebanggaan dan kecintaannya itu dengan menangis sejadi-jadinya. Begitu kata non, itulah saat-saat paling indah dalam hidupnya. Ibunya menangis menyesali sikapnya, malu pada anaknya yang pantang menyerah. Non juga menangis minta maaf karena selama ini membohongi ibunya. Dia hanya tidak ingin menyerah. Dan ibunya sadar, Nduk. Ibunya mulai bangkit. Demi anaknya, demi keluarganya. Ibunya mulai berdagang lagi, berusaha dari awal lagi. Dan dia mendukung semua anaknya harus bersekolah.” Mbah Mi tersenyum lega. Sepertinya dia telah menyelesaikan kisah inspiratifnya. Dan seketika saja Ika menangis meronta-ronta. Diiringi goncangan bus yang lewati jalanan tak rata.

Kondektur bus datang menghampiri mereka berdua, “Kenapa cucunya kok nangis, Mbah?” Penumpang lainnya yang tak terlalu banyak jumlahnya juga ikut memperhatikan apa yang terjadi. “Nggak apa-apa, Mas. Ini cucu mbah mau curhat.” Salah satu penumpang menyaut, “Oohh.. Curhat to, Mbah?” diikuti beberapa gelak tawa dari bangku belakang. Kondektur segera pergi membiarkan percakapan curahan hati cucu pada neneknya.

Mbah Mi kembali menatap wajah Ika. Tatapan penuh perasaan. Dengan menyeka air mata di pipinya, mbah Mi menghibur, “Kenapa, Nduk? Cerita sama mbah.” Kata-kata sederhananya penuh kasih sayang.

“Cerita Mbah mengingatkan pada diri saya sendiri, Mbah. Non itu memilih untuk tidak menyerah, tapi Ika sendiri malah menyerah.” Isak tangisnya menyendat kata-katanya, “Ika bingung, Mbah. Ika sekarang ini nggak mau ke sekolah. Ika mau minggat saja.” Dan dia lanjutkan tangisannya. Kali ini tak mengundang perhatian penumpang lain yang sudah memahami apa yang sedang terjadi.

Mbah Mi memeluk Ika dalam dada kasih sayangnya, membelai rambutnya, “Ini sebabnya kesedihanmu pagi ini, Nduk. Cerita lah, gantian mbah yang mendengarkan.” Ditegakkannya tubuh Ika, diseka lagi air matanya.

Kali ini Ika sudah agak tenang untuk bercerita.

“Tadi malam Ika bertengkar sama bapak dan ibu. Mereka menyuruh Ika menikah, Mbah. Ika nggak mau, Ika belum siap. Meskipun banyak teman-teman seumuran Ika lainnya yang sudah menikah, dan nggak melanjutkan sekolah SMP-nya.” Mbah Mi tetap tersenyum padanya, belum berkata, masih mendengarkan saja.

“Tapi, Ika juga nggak mau bersekolah, Mbah. Sudah nggak ada lagi semangat untuk belajar. Ika nggak menemukan tujuannya belajar. Sepertinya Ika nggak dapat apa-apa selama ini. Ika bingung.” Matanya tunjukkan kebimbangan. Sedangkan dia menatap mata mbah Mi yang penuh harapan. “Makanya Ika minggat saja, jauh dari paksaan orang tua, entah bekerja apa bahkan sempat berpikir untuk mengemis saja.” Ika menunduk. Kali ini tanpa air mata.

Mbah Mi mengangkat wajah murung Ika dengan jari rentanya, “Itu memang pilihan, Nduk.” Dengan menatap mata Ika, mbah Mi berkata, “Sama seperti yang mbah Mi rasakan. Setelah mendengar cerita hidup non itu dan ibunya yang bangkit dari keterpurukannya, mbah merasa tersadar. Tapi mbah juga masih bingung. Makanya pagi ini mbah Mi masih pergi mengemis dengan rasa penuh kebingungan. Kebingungan ini hilang saat mbah melihatmu pagi ini duduk termenung sendiri, Nduk. Mbah ingat, non itu berpesan pada mbah supaya berbagi cerita sedih dan perjuangannya itu ke anak cucu mbah, tapi mbah nggak punya siapa-siapa. Dan mbah yakin ingin bercerita padamu saat pertama mbah melihatmu. Dengan begini mbah bisa membalas budi baik non tuan rumah itu.” Kedua perempuan berbeda generasi itu kini nampaknya memancarkan secercah harapan pada matanya.

“Tentang pendidikan, mbah jadi ingat cerita non itu tentang pesan ibunya pada semua anaknya setelah dia sadar dan berhenti mengemis. Pesannya: Berpendidikan lah, belajar lah seumur hidupmu. Tiru semangat kakakmu dalam menuntut ilmu. Jadikan ilmumu berguna untuk sesama. Dan jangan lupa, yang paling awal adalah berguna bagi anak-anakmu kelak. Makanya khususnya bagi perempuan harus berpendidikan baik, sehingga bisa mendidik anak-anaknya dengan sangat baik ketika nanti jadi seorang ibu. Itu tanggung jawab seorang ibu yang paling besar. Maafkan ibumu yang kurang berpendidikan baik sehingga membuat kalian menderita. Yang ibu bisa lakukan sekarang adalah mendukung kalian supaya berpendidikan baik.”

“Jadi tujuan pendidikan dan menuntut ilmu itu adalah berguna bagi sesama ya, Mbah. Ika hanya pusing memikirkan diri sendiri selama ini. Dan Ika sangat terkesan dari nasihat ibu non itu, bahwa perempuan harus berpendidikan baik, karena kita akan menjadi seorang ibu yang tanggung jawab terbesarnya adalah mendidik anak-anaknya. Meskipun Ika saat ini masih sangat jauh untuk menjadi seorang ibu, tapi sebagai perempuan Ika bisa merasakan bagaimana besarnya sayang seorang ibu pada anak-anaknya, dan mendidik anak-anaknya dengan baik adalah kasih sayang terbesar seorang ibu.” Percakapan bermakna nenek dan cucu yang baru pertama bertemu ini mencerminkan ikatan batin mereka yang kuat. Mereka berdua mulai tersenyum bahagia, tak nampak lagi kesedihan di wajahnya.

“Ika sudah memutuskan, Mbah. Ika nggak mau minggat. Ika akan lanjutkan bersekolah, dengan semangat belajar yang baru. Ika akan menggali bakat-bakat Ika melalui pendidikan. Demi kebaikan anak-anak Ika kelak, juga semoga bisa menjadi kebaikan untuk sesama. Ika akan hadapi dengan berani dan sopan paksaan orang tua. Semoga dengan kesabaran mereka akan sadar. Ika akan buktikan pada bapak ibu bahwa Ika bisa membanggakan mereka.”

“Mbah juga sudah memutuskan, Nduk. Mbah akan berhenti mengemis dan mulai bekerja. Mbah akan berdagang. Meskipun mbah sudah tua, mbah nggak punya apa-apa dan siapa-siapa, mbah akan berusaha. Maukah Nduk jadi sahabat mbah? Cucu angkat mbah?” Dan Ika memeluk mbah Mi, “Iya, Mbah.” berkata singkat, sederhana, dan sangat dalam maknanya pada mbah Mi yang sudah dianggapnya nenek sendiri.

“Mbah, ini Ika mau berangkat ke sekolah. Nggak apa meskipun terlambat.”

“Ini kan kita sudah berangkat, Nduk.”

“Iya, tapi bukan bus ini yang mengantarku ke sekolah, Mbah. Ini bus yang mengantarku minggat entah kemana.”

“Oalaaahhh…” Seru mbah Mi dengan nada lucu, memecah tawa mereka berdua.

Seketika ada celetukan lagi dari bangku belakang, “Lho, ini curhat apa banyolan?” Dan seisi bus dipenuhi tawa penumpang yang sebenarnya tak terisi penuh juga.

“Ya sudah, ayo kita turun. Mbah mau antarkan cucu mbah yang manis ini ke sekolah.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *