14 Feb

Semangat Pengabdian Berawal..

Semangat pengabdianSobat! Izinkan aku berbagi pengalaman yang menginspirasiku, tentang semangat pengabdian! Semoga kita semua akan selalu belajar untuk mengabdi pada kebaikan bersama, sobat! 🙂

Semangat pengabdian, yang selama ini kupelajari, berusaha kuterapkan, dan juga berusaha kurefleksikan, lalu belajar lagi, usaha-bertindak lagi, refleksi lagi, begitu seterusnya siklus pembelajaran kapasitas hidup ini untuk terus berkembang.. tentunya tak serta merta datang begitu saja..

Ada proses awalnya, gimana proses pengembangan kapasitas untuk mengabdi ini berawal, kawan..

Yes! Apapun semangat hidup itu, itu juga bentuk semangat pengabdian, kawan 🙂 Karena hidup kita ini untuk mengabdi. Coba bayangkan, hidup kita, pekerjaan kita, pikiran kita, itu selalu kita upayakan, baik untuk diri kita sendiri, maupun juga untuk kebahagian orang lain.. itu pengabdian, kawan.. 🙂

Okey, back to topic 😉

Aku akan berbagi tentang cerita awalku merasakan semangat pengabdian..

Sederhana sekali kawan..

Dulu, waktu aku hanya sibuk memikirkan diriku sendiri.. ya mungkin bisa dikatakan wajar bagi anak seumuran SMP, masa-masa remaja.. tak pernah terpikir di benakku untuk memikirkan orang lain, membahagiakan orang lain. Ya, kalau orang tua, pastinya ingin membuat mereka selalu tersenyum. Tapi orang lain? Tak pernah!

Masa-masa itu, tentunya sibuk dengan dirinya sendiri, belajar, main, pulang ke rumah, main lagi, kadang-kadang belajar, tidur, sekolah, main lagi *kok banyak mainnya ya, hehehe.. Iya, pusatnya.. untuk diri sendiri!

Saat melakukan rutinitas sehari-hari saja, ya yang barusan kusebut, sudah membuatku senang.. jadi ngapain repot-repot mikirin orang lain?

Ya.. itu dulu yang kurasakan kawan!

Jadi, saat itu, tiba-tiba mulai ada kesempatan untuk mengabdikan diri untuk orang lain, mendidik anak-anak.

Jelas, aku acuh tak acuh.. lha pikirku, merepotkan.. anak-anak itu menyebalkan..

Jadi, hilang lah kesempatan itu.. untuk sesaat.

Beberapa waktu berlalu, dan aku masih keras kepala dengan pandanganku..

Lalu, hal sederhana terjadi..

Temanku, yang memang dia sangat antusias mendidik anak-anak.. meminta pertolonganku. Sebagai teman, tentu aku mau..

Dia tidak bisa menjemput beberapa anak, tapi dia masih bisa mengajar mereka di rumahnya. Makanya dia memintaku untuk menjemput beberapa anak itu.

Dan aku mengiyakan permintaannya, masih dengan syarat.. jangan pernah mengajakku mengajar mereka, mendidik anak-anak.. *hahaha kalau diingat, lucu juga sikapku waktu itu, haduhhh…

Dan, saat aku menjemput anak-anak itu, dengan wajah tanpa senyum yang menunjukkan berat hatiku.. anak-anak itu malah berlarian kearahku, dengan antusias mereka menyambutku..

Ya ampun… hati sekeras apa yang mampu bertahan dengan kondisi seperti itu, kawan..

Sejak saat itu, aku mulai terkesan, merasakan apa itu cinta dan semangat pengabdian.. dari hal sederhana, menjemput mereka..

Dari situ, aku semakin merasakan gimana nikmatnya mengabdikan diri kita untuk kebahagiaan orang lain, kawan..

Dan sejak saat itulah, semangat pengabdian berawal.. Aku mulai mau belajar dan terus belajar mengabdikan diri..

Semangat pengabdian

Dan semangat pengabdian akan terus mengiringi hidup, saat kita terus belajar dengan kemurnian dan kerendahan hati untuk mengabdi..

Jadi.. ayo kawan, kita mulai dan terus belajar mengabdi 🙂

Gimana?

“Semangat pengabdian, berawal saat kita merasakan cinta dan pengabdian, dan itu akan terus mengiringi hidup kita” hanz

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *